IDXChannel - PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) menghadapi perubahan besar dalam bisnis penanganan ekspor impor kendaraan listrik (EV). Volume impor BYD yang sebelumnya menjadi salah satu penopang aktivitas terminal pada 2025 merosot tajam seiring dimulainya pengembangan fasilitas produksi kendaraan listrik di Indonesia.
Direktur Utama IPCC, Wing Megantoro mengungkapkan, volume impor BYD mencapai sekitar 74.000 unit sepanjang 2025. Namun, pada 2026 jumlahnya turun menjadi sekitar 3.000 unit. Perubahan drastis tersebut berdampak terhadap pendapatan IPCC, terutama di Terminal Branch Jakarta, yang diperkirakan mencapai Rp40 miliar.
Kondisi serupa juga terjadi pada VinFast. Pada 2025, IPCC menangani sekitar 24.000 unit kendaraan dari produsen otomotif asal Vietnam tersebut. Namun, seiring perkembangan produksi lokal, aktivitas impor kedua merek tersebut mengalami penurunan signifikan.
Di tengah perubahan tersebut, IPCC kini berharap produsen kendaraan listrik yang membangun pabrik di Indonesia dapat beralih dari aktivitas impor menjadi eksportir melalui terminal yang dikelola perseroan.
"Jika dilihat dari data, memang impor BYD pada tahun 2025 sekitar 74.000 unit dan pada tahun 2026 sekitar 3.000 unit. Hal tersebut memang mengalami penurunan karena BYD secara prinsipal memiliki strategi untuk melakukan pembangunan pabrik di Indonesia. Harapannya, setelah pabrik selesai, akan dilakukan ekspor. Untuk kontrak layanan ini, proses perpanjangan kontrak sampai dengan Oktober 2028," katanya dalam Risalah Public Expose dikutip Sabtu (7/11/2026).