IDXChannel - PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) menjajaki kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ihwal potensi hilirisasi riset di sektor kesehatan.
Jajaran manajemen Kimia Farma bersama periset BRIN menggelar pertemuan dalam forum di Jakarta, Rabu (16/9/2026). Forum ini digelar dalam rangka untuk menyeleraskan potensi inovasi hasil riset dengan kebutuhan dan kapasitas pengembangan produk industri.
Direktur Komersial PT Kimia Farma Tbk, Hanardi Setiarto menyampaikan, kolaborasi riset diperlukan untuk menjawab berbagai tantangan industri farmasi, termasuk ketergantungan terhadap bahan baku obat impor. Saat ini, sekitar 90 persen kebutuhan Active Pharmaceutical Ingredients (API) Indonesia masih bergantung pada impor.
“Harapan kami, hasil pertemuan ini dapat membawa pulang beberapa proyek atau ide yang dapat dikembangkan menjadi hasil yang terukur bersama,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (18/9/2026).
Hanardi menambahkan, Kimia Farma dan BRIN menjajaki bentuk kerja sama yang lebih konkret mulai dari hilirisasi riset, lisensi teknologi, uji klinis bersama, hingga co-development. Hasil pertemuan diharapkan menjadi dasar penyusunan roadmap kolaborasi jangka pendek dan menengah antara periset BRIN dan tim Research & Product Development Kimia Farma.
Inovasi dengan tingkat kesiapan yang lebih tinggi dapat diprioritaskan untuk dikembangkan lebih lanjut. Sementara itu, produk yang masih membutuhkan tahapan pengembangan lebih panjang dapat ditempatkan dalam peta jalan kerja sama.
Sementara itu, Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Industri BRIN, Mulyadi Sinung Harjono mengatakan, kolaborasi dengan industri diperlukan agar hasil riset dapat berlanjut ke tahap pengembangan dan pemanfaatan.
“Banyak produk hasil riset yang mungkin harus dibawa ke industri. Masalah utamanya adalah bagaimana riset itu dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, BRIN memaparkan portofolio riset yang meliputi kesehatan, nanoteknologi dan material, elektronika dan informatika, energi dan manufaktur, hayati dan lingkungan, serta teknologi nuklir. Pemaparan itu menjadi bagian dari upaya mempertemukan kapasitas riset BRIN dengan pipeline pengembangan produk Kimia Farma.
Di bidang kesehatan, Kepala Organisasi Riset Kesehatan (ORK) BRIN, Indi Dharmayanti memaparkan sejumlah inovasi, antara lain vaksin tuberkulosis (TB) berbasis messenger RNA (mRNA), vaksin demam berdarah dengue (DBD), terapi stem cell, teknologi diagnostik, pengembangan obat dan bahan baku obat, serta berbagai produk kesehatan. Sejumlah inovasi tersebut telah memasuki tahapan pengujian dan pengembangan lebih lanjut.
Selain itu, potensi biodiversitas Indonesia juga menjadi bagian dari pengembangan inovasi kesehatan. BRIN mengembangkan senyawa bioaktif, kandidat vaksin dan antibodi, model sel untuk screening obat, serta teknologi deteksi DNA yang dapat mendukung kebutuhan industri halal.
Di bidang nanoteknologi dan material, Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM) BRIN, Ratno Nuryadi menyampaikan berbagai pengembangan yang berpotensi mendukung industri kesehatan. Di antaranya implan tulang dan gigi, bone graft, alat kesehatan, bahan baku farmasi, kosmetik, serta teknologi scale-up dari skala laboratorium menuju produksi industri.
BRIN juga mengembangkan bahan farmasi seperti microcrystalline cellulose (MCC) dan sodium starch phosphate (SSP) yang dapat mendukung kebutuhan bahan baku industri.
Sementara di bidang teknologi nuklir diarahkan untuk memperkuat kemandirian radiofarmaka nasional. Kepala Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri (PRTRRB), Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN, Tita Puspitasari menyampaikan pengembangan produk radiofarmaka untuk mendukung diagnosis dan terapi penyakit, termasuk kanker.
Produk yang dikembangkan antara lain kit radiofarmaka, Iodium-131, dan generator Mo-Tc. Pengembangannya diarahkan tidak hanya pada penguasaan teknologi, tetapi juga menuju produksi dan komersialisasi bersama mitra industri.
(Rahmat Fiansyah)