Inovasi dengan tingkat kesiapan yang lebih tinggi dapat diprioritaskan untuk dikembangkan lebih lanjut. Sementara itu, produk yang masih membutuhkan tahapan pengembangan lebih panjang dapat ditempatkan dalam peta jalan kerja sama.
Sementara itu, Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Industri BRIN, Mulyadi Sinung Harjono mengatakan, kolaborasi dengan industri diperlukan agar hasil riset dapat berlanjut ke tahap pengembangan dan pemanfaatan.
“Banyak produk hasil riset yang mungkin harus dibawa ke industri. Masalah utamanya adalah bagaimana riset itu dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, BRIN memaparkan portofolio riset yang meliputi kesehatan, nanoteknologi dan material, elektronika dan informatika, energi dan manufaktur, hayati dan lingkungan, serta teknologi nuklir. Pemaparan itu menjadi bagian dari upaya mempertemukan kapasitas riset BRIN dengan pipeline pengembangan produk Kimia Farma.
Di bidang kesehatan, Kepala Organisasi Riset Kesehatan (ORK) BRIN, Indi Dharmayanti memaparkan sejumlah inovasi, antara lain vaksin tuberkulosis (TB) berbasis messenger RNA (mRNA), vaksin demam berdarah dengue (DBD), terapi stem cell, teknologi diagnostik, pengembangan obat dan bahan baku obat, serta berbagai produk kesehatan. Sejumlah inovasi tersebut telah memasuki tahapan pengujian dan pengembangan lebih lanjut.