Kebijakan tersebut berpotensi memperketat pasar bahan bakar yang sebelumnya sudah menghadapi keterbatasan pasokan global.
“Segala hal yang meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed tentu akan menekan sentimen di pasar emas. Kenaikan harga energi yang signifikan atau eskalasi konflik di Timur Tengah juga dapat memberikan dampak serupa,” ujar Meger.
Pelaku pasar kini menunggu laporan tenaga kerja nonfarm payrolls (NFP) AS untuk September yang akan dirilis Jumat (2/10/2026). Data tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan arah kebijakan moneter The Fed.
“Pelemahan selera risiko dan berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed telah membantu harga emas. Namun, tren jangka pendek masih bearish. Pengujian ulang level USD4.000 masih mungkin terjadi, terutama jika laporan nonfarm payrolls besok menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan,” kata analis pasar senior XM Trading, Achilleas Georgolopoulos, dalam catatannya.
HSBC memangkas proyeksi rata-rata harga emas untuk 2026 dan 2027 menjadi masing-masing USD4.490 per ons dan USD4.825 per ons.