"Kami melihat masih ada kekhawatiran di kalangan investor bullish terkait kebijakan moneter AS yang lebih ketat. Kondisi tersebut telah mendorong indeks dolar AS ke level tertinggi lebih dari dua bulan pada Jumat. Faktor-faktor bearish tersebut menekan logam mulia," kata analis pasar American Gold Exchange Jim Wyckoff, seperti dikutip Reuters.
Pelaku pasar kini memperhitungkan peluang sebesar 88 persen bahwa The Fed kembali menaikkan suku bunga pada Desember mendatang, berdasarkan CME FedWatch Tool.
Emas secara tradisional dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi.
Namun, daya tariknya cenderung berkurang ketika suku bunga tinggi karena aset berbasis imbal hasil menjadi lebih menarik.
Perang AS-Israel dengan Iran telah mendorong kenaikan harga energi, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan memperkuat sikap kebijakan moneter ketat bank-bank sentral.
Kondisi tersebut membuat harga emas telah turun 17 persen dari level tertingginya pada 27 Februari.