Selain itu, perkembangan kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat juga menjadi perhatian pasar. Ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter AS dinilai dapat memicu volatilitas di pasar keuangan global dan mendorong minat terhadap logam mulia.
Di sisi lain, Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi kembali berada di atas Rp18.000 per dolar AS. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga logam mulia di pasar domestik.
"Nah kalau rupiah kembali di atas Rp18.000, sangat wajar kalau seandainya harga logam mulia itu akan menuju di level Rp2.820.000 per gram," katanya.
Sementara itu, dari sisi teknikal, Ibrahim memperkirakan harga logam mulia pekan depan berada dalam rentang Rp2,62 juta hingga Rp2,82 juta per gram.
Jika mengalami koreksi, harga logam mulia diperkirakan memiliki support pertama di Rp2,744 juta per gram. Apabila tekanan berlanjut, level support berikutnya berada di Rp2,62 juta per gram.