Data surveyor kargo juga menunjukkan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada 1–10 September diperkirakan turun antara 11,7 persen hingga 17,5 persen dibandingkan periode yang sama pada bulan sebelumnya.
Di tengah tekanan tersebut, kenaikan harga minyak mentah memberikan sedikit penopang bagi CPO. Harga Brent dan West Texas Intermediate (WTI) mengakhiri pekan di atas USD100 per barel untuk pertama kalinya sejak pertengahan Mei, seiring meningkatnya serangan di jalur pelayaran utama Timur Tengah yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan berkepanjangan.
Harga minyak mentah yang lebih tinggi membuat minyak sawit relatif lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Namun, pergerakan minyak nabati pesaing masih membatasi ruang penguatan CPO. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian naik 0,44 persen, sedangkan kontrak palm oil di bursa yang sama turun 0,79 persen. Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade melemah 0,43 persen.
Harga CPO cenderung mengikuti pergerakan minyak nabati pesaing karena komoditas-komoditas tersebut saling bersaing untuk merebut pangsa pasar minyak nabati global. (Aldo Fernando)