Dari sisi mata uang, ringgit yang menjadi mata uang perdagangan CPO menguat 0,12 persen terhadap dolar AS. Penguatan ringgit membuat CPO sedikit lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Sementara itu, sentimen permintaan dari India turut menjadi perhatian pasar. Pemerintah India pada Rabu (23/9) memangkas bea masuk dasar untuk minyak nabati mentah dan olahan, termasuk minyak sawit, minyak kedelai, dan minyak bunga matahari.
Kebijakan tersebut ditempuh pemerintah India untuk menekan harga pangan menjelang puncak musim perayaan di negara tersebut.
India merupakan salah satu konsumen minyak nabati terbesar dunia, sehingga perubahan kebijakan impor berpotensi memengaruhi dinamika permintaan CPO global. (Aldo Fernando)