sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Demokrat Kuasai Kongres AS, Rupiah Belum Ikut Menikmati Angin Segar Global

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
06/11/2026 09:17 WIB
Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela Amerika Serikat (AS) membuka peluang meredanya tekanan fiskal global.
Demokrat Kuasai Kongres AS, Rupiah Belum Ikut Menikmati Angin Segar Global. (Foto: Magnific)
Demokrat Kuasai Kongres AS, Rupiah Belum Ikut Menikmati Angin Segar Global. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela Amerika Serikat (AS) membuka peluang meredanya tekanan fiskal global. Penurunan harga minyak juga memberikan ruang bagi perbaikan neraca perdagangan dan fiskal Indonesia.

Namun, membaiknya sentimen global tersebut belum tercermin di pasar keuangan domestik.

Rupiah masih tertekan di tengah pelemahan dolar AS, sementara imbal hasil obligasi pemerintah terus meningkat akibat persoalan kepercayaan investor terhadap pasar domestik.

Partai Demokrat diproyeksikan menguasai dua kamar Kongres AS, yakni Senat dan House of Representatives (DPR).

Berdasarkan penghitungan Associated Press (AP) per 4 November 2026, Demokrat mengamankan sedikitnya 54 kursi Senat dan berhasil merebut tambahan 25 kursi di DPR.

Perubahan komposisi Kongres tersebut diperkirakan memperketat pengawasan terhadap pemerintahan sekaligus menghambat pengesahan kebijakan pajak dan belanja baru dalam skala besar.

Meski demikian, hak veto presiden tetap berlaku dan pemerintah masih memiliki keleluasaan dalam menentukan kebijakan perdagangan serta hubungan luar negeri.

Dalam riset pada 5 November 2026, analis Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menilai kebuntuan politik di Kongres berpotensi meredakan tekanan premi risiko fiskal AS.

Namun, pemerintahan diperkirakan akan semakin mengandalkan kewenangan eksekutif, terutama dalam kebijakan perdagangan dan luar negeri.

Meredanya kekhawatiran fiskal turut tercermin dari pergerakan pasar obligasi dan dolar AS.

Indeks dolar AS (DXY) turun ke level terendah dalam sebulan di 101,4, sedangkan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di 4,92 persen atau 27 basis poin lebih rendah dibandingkan pertengahan Oktober 2026.

Imbal hasil US Treasury tenor dua tahun juga turun 19 basis poin seiring meredanya ekspektasi suku bunga. Kendati demikian, perubahan politik di Kongres tidak mengubah arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).

Rully menilai The Fed masih cenderung hawkish. Dalam proyeksinya, bank sentral AS masih berpeluang menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 8-9 Desember 2026, sehingga suku bunga acuan berada di kisaran 4,00-4,25 persen.

Di pasar komoditas, penurunan harga minyak justru menjadi salah satu peluang bagi Indonesia.

Harga minyak mentah Brent turun ke sekitar USD95 per barel pada pagi 5 November 2026, dari USD118 per barel pada 30 Oktober 2026.

Penurunan harga minyak berpotensi memperbaiki neraca perdagangan Indonesia, mengurangi beban subsidi energi, sekaligus membantu menjaga stabilitas rupiah.

Dalam riset tersebut, setiap perubahan USD1 pada harga minyak mentah Indonesia (ICP) diperkirakan berdampak sekitar Rp6,8 triliun terhadap defisit APBN.

Sebaliknya, kebijakan tarif perdagangan AS masih menjadi risiko yang perlu diwaspadai.

Pengawasan yang lebih ketat terhadap penggunaan tarif darurat dapat membatasi ruang pemerintah AS dalam menerapkan kebijakan tersebut, tetapi instrumen tarif sektoral tetap tersedia.

Dengan demikian, peluang keringanan tarif bagi eksportir belum dapat dipastikan. Terlebih, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke AS mencapai USD25,4 miliar sepanjang Januari-September 2026.

Rupiah Masih Tertekan di Tengah Perbaikan Sentimen Global

Di tengah pelemahan dolar AS dan penurunan harga minyak, rupiah justru bergerak berlawanan arah.

Mata uang Garuda ditutup di level Rp18.168 per dolar AS pada 4 November 2026, sementara imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun meningkat ke 7,73 persen.

Sejak pengumuman MSCI pada 14 Oktober 2026, indeks dolar AS (DXY) tercatat melemah 1,1 persen.

Namun, rupiah justru terdepresiasi 1,5 persen dan menjadi mata uang dengan kinerja terlemah di Asia.

Tekanan serupa terlihat di pasar saham. Dalam kondisi normal, meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko (risk-on) di pasar global biasanya turut mengangkat pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Namun, korelasi tersebut kini melemah akibat krisis kepercayaan investor terhadap kredibilitas pasar domestik.

 Sejak 14 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah terkoreksi 17,2 persen, jauh lebih dalam dibandingkan pergerakan pasar saham regional yang berada dalam rentang minus 5 persen hingga positif 6 persen.

Bahkan, ketika bursa Shanghai dan Hong Kong menguat sekitar 2 persen pada 4 November 2026, IHSG hanya naik 0,3 persen. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3 4 5 6
Advertisement
Advertisement