IDXChannel - Badan Pengelola Investasi Dana Anagata Nusantara (BPI Danantara) memastikan bakal segera mendorong upaya peningkatan kapabilitas dan daya saing, sebagai tindak lanjut dari rampungnya proses merger empat perusahaan Manajer Investasi (MI) di bawah naungannya.
Langkah peningkatan tersebut dinilai penting dan krusial, guna mendorong entitas perusahaan baru ini agar lebih bisa berkiprah di level yang lebih luas, baik di tingkat regional maupun global.
"Karena memang tujuannya (merger) itu lebih untuk menyatukan keahlian, kapabilitas investasi, serta jaringan distribusi keempat perusahaan dalam membangun institusi manajemen investasi nasional dengan skala usaha yang lebih besar," ujar Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria, dalam keterangan resminya, Selasa (20/10/2026).
Sebagaimana diketahui, sejak 28 September 2026 lalu pihak BPI Danantara melalui salah satu entitas bisnisnya, yaitu PT Danantara Asset Management (DAM), berhasil menggabungkan PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI), PT BNI Asset Management (BNI AM), PT BRI Manajemen Investasi (BRI MI) dan PT PNM Investment Management (PNM IM), dengan pihak MMI telah ditunjuk sebagai perusahaan penerima hasil merger tersebut.
Dengan demikian, pasca rampungnya proses merger, maka segala bentuk aset, liabilitas, hak dan kewajiban perusahaan-perusahaan yang digabung, bakal resmi beralih ke pihak MMI, sehingga menghasilkan skala usaha yang semakin besar.
Dalam hal ini, Dony pun memastikan bahwa peningkatan skala usaha tersebut harus diiringi dengan perubahan budaya kerja, penguatan kompetensi, serta peningkatan kinerja perusahaan, dengan penerapan sistem pengelolaan SDM yang profesional dan terukur.
Hal tersebut, di antaranya, dilakukan melalui proses evaluasi jabatan, penetapan jenjang jabatan, hingga penilaian kompetensi masing-masing karyawan.
"Jadi kami akan lakukan job evaluation. Kita tentukan job sizingnya, kita bikinkan grading systemnya, dan juga competency matrixnya, sampai ke job requirementnya juga, sehingga kita bisa pastikan semua orang diperlakukan secara fair," ujar Dony.
Tak hanya itu, Dony juga menekankan bahwa proses penyamaan prinsip, pola pikir dan juga tujuan, bakal menjadi bagian penting dalam proses transformasi organisasi pasca rampungnya proses penggabungan.
Hal ini menjadi gambaran atas proses panjang yang harus dilalui perusahaan, karena tanpa adanya prinsip yang sama, baik secara mindset maupun tujuan yang dipahami oleh masing-masing karyawan, maka arah pengembangan bisnis ke depan bisa saja tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Selain aspek SDM, Dony juga menyatakan bahwa proses konsolidasi diarahkan guna memperkuat tata kelola, teknologi, hingga standar pengelolaan investasi.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, perusahaan hasil merger empat MI ini memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) secara kumulatif hingga lebih dari Rp143 triliun.
"Jumlah ini masih akan terus bertambah seiring peningkatan kesadaran masyarakat terhadap investasi dan peluncuran berbagai produk baru, karena empat perusahaan yang telah merger ini juga sebelumnya telah memiliki basis nasabah yang kuat, baik di segmen ritel maupun institusi," ujar Dony.
Pada segmen ritel, misalnya, entitas hasil merger ini rencannaya bakal mengembangkan produk investasi tematik dan memperluas akses investasi lewat jaringan bank-bank milik negara (Himbara), seiring dnegan pertumbuhan jumlah Single Investor Identification (SID) secara nasional, yang telah melampaui 30 juta SID, per awal Agustus 2026 lalu.
Sementara di segmen ritel, bakal juga dilakukan penguatan kapabilitas pengelolaan investasi melalui perluasan basis investor, serta penyediaan solusi investasi yang lebih komprehensif bagi berbagai lembaga domestik.
"Yang pasti, perusahaan hasil konsolidasi ini wajib memiliki ambisi untuk berkembang jadi pemain global. kita ingin jadi global player. Perusahaan asing saja bisa, masa kita tidak bisa? Apalagi kita punya jangkauan distribusi yang luas dan banyak," ujar Dony.
(taufan sukma)