Nilai investasi ENRG mencapai USD200 juta atau sekitar Rp3,6 triliun, dengan skema transaksi yang sama-sama melibatkan penerbitan saham preferen konvertibel.
Yosua menilai terdapat perbedaan kepentingan strategis antara Danantara dan ENRG dalam melakukan investasi tersebut.
Sebagai SWF, Danantara lebih berfokus pada pembangunan portofolio yang terdiversifikasi di sektor strategis sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.
Sementara itu, bagi ENRG sebagai perusahaan migas, investasi tersebut lebih berkaitan dengan ekspansi geografis dan penguasaan teknologi yang diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi kegiatan usaha perseroan.
“Ko-investasi pada dasarnya sangat umum dilakukan. Danantara dan ENRG menjadi salah satunya. Danantara dari sisi SWF, sementara ENRG sebagai pelaku migas asal Indonesia. Besar harapannya manfaat itu dirasa oleh sektor migas Indonesia juga dari investasi ini,” katanya. (Aldo Fernando)