IDXChannel – Bursa saham Asia bergerak variatif pada perdagangan Senin (2/11/2026), sementara harga minyak mentah merosot setelah pasar mencermati aksi jual saham teknologi Amerika Serikat (AS) dan perkembangan diplomasi di Timur Tengah.
Bursa AS ditutup melemah pada Jumat (30/10) pekan lalu, setelah laporan kinerja yang mengecewakan dari Amazon dan Intel memperkuat kekhawatiran bahwa reli saham berbasis kecerdasan buatan (AI) mulai retak.
Sentimen risk-off di pasar saham Asia mereda pada Senin. Indeks Kospi Korea Selatan naik 1,35 persen, Hang Seng Hong Kong menguat 0,8 persen, dan Shanghai Composite China naik 0,2 persen. Sebaliknya, Nikkei Stock Average Jepang turun 0,2 persen.
Kontrak berjangka (futures) indeks saham AS alias Wall Street juga bergerak menguat. Nasdaq futures yang sarat saham teknologi naik 0,8 persen.
Di pasar komoditas, harga minyak turun seiring meningkatnya harapan bahwa upaya diplomasi terbaru dapat menghidupkan kembali perundingan damai antara Washington dan Teheran.
Wakil Presiden AS JD Vance dilaporkan mengirim pesan kepada Mohsen Rezaei, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, dalam upaya memulai kembali perundingan damai. Laporan tersebut disampaikan The Wall Street Journal pada pekan lalu.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak terdekat turun 2 persen menjadi USD102,05 per barel.
Sementara itu, minyak Brent untuk kontrak terdekat melemah 1,8 persen menjadi USD111,43 per barel.
Pemilihan umum paruh waktu AS pada Selasa menjadi katalis geopolitik utama berikutnya. Presiden Donald Trump berulang kali mengancam akan kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemilu tersebut.
ANZ Research menilai perkembangan terkait konflik AS-Iran masih menjadi perhatian utama pasar minyak.
“Bagi pasar, distribusi risiko harga minyak tetap asimetris. Diplomasi dapat mengurangi sebagian premi geopolitik, tetapi eskalasi militer baru atau gangguan lebih lanjut di sekitar Selat Hormuz dapat memicu kenaikan harga yang lebih tajam,” kata Senior Currency Analyst MUFG Lloyd Chan dalam catatannya, seperti dikutip Dow Jones Newswires. (Aldo Fernando)