IDXChannel – Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Kamis (13/8/2026) setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) sesuai ekspektasi, meredakan kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.
Di sisi lain, harga minyak masih bertahan di sekitar USD80 per barel di tengah kebuntuan pembicaraan Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang di kawasan Teluk.
Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang naik 0,97 persen, dengan saham Korea Selatan memimpin penguatan setelah indeks KOSPI melonjak 4,11 persen.
Indeks Nikkei Jepang juga menguat 1,60 persen, sementara Shanghai Composite naik 0,43 persen. Kontrak berjangka (futures) S&P 500 tercatat naik tipis 0,02 persen.
Data menunjukkan harga konsumen AS meningkat 0,1 persen pada Juli, sesuai dengan ekspektasi pasar.
Kenaikan yang relatif kecil tersebut berpotensi mengurangi alasan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan September.
Pasar uang kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September sekitar 40 persen, turun dari 54 persen sepekan sebelumnya berdasarkan CME Group FedWatch.
"Baik The Fed maupun pasar kemungkinan akan terus mencermati data hingga sesaat sebelum pertemuan FOMC September," kata Den Miki, senior rate strategist SMBC Nikko Securities, dalam catatannya, dikutip Reuters.
Pasalnya, data inflasi Agustus masih akan dirilis sebelum pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan depan.
Selain itu, harga minyak mentah juga telah meningkat moderat sejak Juli sehingga berpotensi menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan bank sentral AS.
Di Wall Street, perdagangan berakhir bervariasi pada Rabu (12/8). Nasdaq Composite dan S&P 500 mencatat kenaikan tipis, sedangkan Dow Jones Industrial Average terkoreksi.
Sementara itu, harga minyak turun tipis pada perdagangan Asia, tetapi masih berada pada level tinggi. Harga minyak mentah AS turun 0,83 persen menjadi USD82,58 per barel, sedangkan Brent turun 0,71 persen menjadi USD88,35 per barel.
Pergerakan harga minyak masih dibayangi ketegangan antara Iran dan AS. Kedua negara belum mencapai kesepakatan mengenai upaya mengakhiri perang di kawasan Teluk.
Pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni belum menghasilkan kemajuan, dan belum ada jadwal pelaksanaan yang ditetapkan, menurut seorang sumber senior Iran.
Presiden AS Donald Trump mengatakan negaranya memiliki "kendali penuh" atas Selat Hormuz. Namun, klaim tersebut langsung dibantah Iran yang menyatakan jalur pelayaran tersebut masih dalam kondisi tertutup. (Aldo Fernando)