“Industri pariwisata adalah salah satu industri yang sangat sensitif terhadap perubahan geopolitik tersebut. Ketika terjadi ketidakpastian, wisatawan dapat menunda perjalanan dan perusahaan dapat meninjau kembali seluruh rencana bisnis dan insentifnya,” tuturnya.
“Travel agent serta tour operator harus menyesuaikan programnya, dan airlines juga akan mengalami perubahan permintaan yang sangat dinamis. Dan pada akhirnya, berbagai mata rantai dalam ekosistem pariwisata ikut merasakan dampaknya,” tambah Hariyadi.
Kendati demikian, GIPI mencatat masih adanya geliat manis dari pasar regional. Wisatawan mancanegara dari negara tetangga, khususnya Malaysia, justru menunjukkan lonjakan kunjungan yang cukup signifikan ke Tanah Air.
Menariknya, pelemahan nilai tukar rupiah dalam situasi ekonomi saat ini memberikan celah dan daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing.
“Memang tantangannya cukup lumayan, terutama yang long-haul]. Kunjungan jarak jauh memang ada faktor tiket lumayan. Tetapi di regional itu justru menunjukkan fenomena menarik juga, terutama di Malaysia. Malaysia tuh sekarang banyak banget yang datang ke Indonesia,” ungkap dia.
Kondisi tersebut, yang saat ini tengah didorong mengingat melemahnya rupiah, menjadi momen yang tepat bagi wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia.