Sektor industri pengolahan juga tetap menjadi penopang utama ekspor Januari–September 2026 dengan nilai ekspor USD182,83 miliar, berkontribusi sebesar 82,64 persen terhadap total ekspor, dan tumbuh sebesar 8,93 persen (CtC). Sedangkan, ekspor sektor pertanian turun terdalam sebesar 18,42 persen, diikuti sektor migas yang turun 9,11 persen serta sektor pertambangan dan lainnya yang turun 5,46 persen (CtC).
Jika dilihat dari komoditasnya, tiga komoditas nonmigas dengan peningkatan ekspor tertinggi adalah aluminium dan barang daripadanya (HS 76) yang melonjak 104,88 persen, tembaga dan barang daripadanya (HS 74) naik 57,49 persen, serta nikel dan barang daripadanya (HS 75) naik 47,87 persen (CtC).
Berdasarkan negara tujuan utama ekspor nonmigas selama Januari–September 2026, China menempati posisi pertama dengan nilai USD54,17 miliar dan pangsa ekspor sebesar 25,52 persen, disusul AS dengan USD25,39 miliar dan pangsa 11,96 persen, serta India sebesar USD15,00 miliar dengan pangsa 7,07 persen.
Sementara itu, tujuan ekspor nonmigas Indonesia dengan pertumbuhan terbesar meliputi Hong Kong dengan kenaikan 43,69 persen, Mesir dengan 26,90 persen, dan Tailan 20,50 persen (CtC).
Lonjakan Impor Tandai Ekspansi Sektor Manufaktur
Kinerja impor Indonesia pada September 2026 mencatatkan nilai USD24,23 miliar, naik 5,09 persen dibandingkan Agustus 2026 (MtM) dan tumbuh 18,41 persen dibandingkan September 2025 (YoY). Kenaikan impor bulanan ini didominasi kuat oleh pertumbuhan impor barang modal sebesar 12,14 persen, disusul barang konsumsi yang naik 6,40 persen serta bahan baku dan penolong yang naik 3,12 persen (MtM).