Bendahara negara tersebut menilai daya tahan (resilience) perekonomian nasional tecermin dari stabilnya angka inflasi, realisasi pertumbuhan ekonomi semester awal, hingga laju penyaluran pembiayaan perbankan yang tetap ekspansif.
"Tapi sangat resilien kalau inflasinya 3,19 persen, kalau yang namanya pertumbuhan Q1-nya 5,45 persen, kalau pertumbuhan kreditnya di sekitar 13 persen. ini adalah indikator-indikator yang baik buat fundamental kita," kata Suahasil.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), diikuti capaian kuartal II-2026 sebesar 5,29 persen (YoY).
Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi pada semester I-2026 berada di level 5,45 persen.
Suahasil menambahkan bahwa pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terus berada dalam kondisi sehat dan dipantau secara berkala setiap bulannya guna menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional.
"APBN-nya berjalan dengan baik, dengan yang selalu tiap bulan kita lakukan," ujar Suahasil. (Febrina Ratna Iskana)