“Saya menekankan bahwa Indonesia membuka peluang yang lebar bagi investasi global. Kami menyambut hangat mitra-mitra internasional yang berminat untuk terlibat dalam pengembangan industri hulu migas Indonesia. Dukungan investasi, teknologi, serta kemitraan yang tepat akan menjadi kunci untuk mengoptimalkan potensi tersebut, mendorong penemuan sumber daya baru, serta memperkuat keberlanjutan produksi dan ketahanan energi nasional,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (3/11/2026).
Djoko menjelaskan, potensi migas luar biasa yang dimiliki Indonesia tercermin dari sejumlah temuan signifikan selama beberapa waktu terakhir, salah satunya temuan raksasa sumur gas Geliga-1 di Blok Ganal oleh Eni pada April 2026, dengan estimasi sumber daya in-place sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) gas dan 300 juta barel kondensat.
Capaian ini semakin memperkuat tren positif kegiatan eksplorasi migas Indonesia, melanjutkan keberhasilan sejumlah penemuan signifikan sebelumnya, antara lain Geng North-1 dan Konta-1 oleh Eni di Cekungan Kutai Kalimantan Timur (kini merupakan portofolio Searah Muara Bakau), serta Layaran-1 dan Tangkulo-1 oleh Mubadala Energy di Wilayah Kerja South Andaman.
Temuan-temuan signifikan selama setahun belakangan ini menambah prospek pengembangan sumber daya migas Indonesia, sejalan dengan capaian contingent resources yang hingga September 2026 telah mencapai 1.497,4 juta barel setara minyak (MMBOE), atau 230 persen dari target tahunan, dan diperkirakan bisa meningkat lagi menjadi 250 persen pada akhir 2026.