Sementara untuk komoditas telur dan ayam, produksi lokal memang telah mencukupi kebutuhan, namun fondasi produksinya dinilai masih rapuh karena besarnya ketergantungan impor di sektor hulu.
Meskipun pemerintah mengklaim keberhasilan pada delapan komoditas tertentu, Dwi menegaskan komoditas tersebut sebenarnya sudah mandiri sejak lama. Selain itu, sektor peternakan seperti ayam dan telur dinilai belum sepenuhnya mandiri karena masih bergantung pada pasokan impor dari hulu.
"Telur dan ayam memang produksinya sudah mencukupi, tetapi seratus persen pakan dan grandparent stock-nya masih kita impor, bahkan bahan pakan menyumbang sekitar lima puluh persen dari luar negeri," kata dia.
Sementara itu, perbaikan data sempat terlihat pada komoditas beras, di mana impor menyusut dari 4,5 juta ton pada 2024 menjadi 0,45 juta ton pada 2025. Namun, Dwi menjelaskan bahwa beras yang diimpor tersebut didominasi oleh beras khusus seperti jenis Japonica untuk kebutuhan restoran asing serta menir.
Saat ini, pemerintah tengah berupaya menekan masuknya menir agar kebutuhan industri dapat sepenuhnya dipenuhi dari dalam negeri.