Selain geopolitik, Sahara juga menggarisbawahi pentingnya digitalisasi perdagangan, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), serta fenomena serviceification atau peningkatan peran sektor jasa dalam rantai produksi.
Komponen pendukung seperti logistik, asuransi, jasa keuangan, pengelolaan data awan (cloud), hingga hak kekayaan intelektual kini menjadi penentu utama besaran margin keuntungan eksportir.
Kemajuan teknologi informasi turut melahirkan tantangan baru berupa dominasi nilai tambah ekonomi yang kini bergeser ke sektor nonfisik. Ketergantungan Indonesia pada penyedia jasa asing dalam proses desain dan pengembangan teknologi dikhawatirkan membuat potensi keuntungan mengalir ke luar negeri.
"Nilai tambah suatu barang kini banyak berasal dari sektor jasa seperti perangkat lunak dan desain, sehingga jika kita hanya memproduksi bajunya sementara desainnya dari luar, kita berpotensi kehilangan nilai tambah di dalam negeri," katanya.