"Jika posisi DSI menambah layer baru dalam rantai ekspor dari produsen ke pembeli luar negeri, hal itu berpotensi meningkatkan biaya transaksi yang akan menggerus daya saing produk kita," katanya.
Dia menambahkan, terkait tantangan efisiensi ekspor ini menjadi semakin krusial mengingat perdagangan global saat ini tengah dihadapkan pada enam isu utama. Beberapa di antaranya adalah penutupan Selat Hormuz akibat konflik geopolitik yang melibatkan Iran, kebijakan proteksionisme dengan prinsip America First, serta kewajiban pemenuhan regulasi lingkungan Uni Eropa seperti EUDR (European Union Deforestation Regulation) dan CBAM (Carbon Border Adjustment Mechanism).
Di luar hambatan regulasi fisik dan lingkungan, ketegangan politik antarnegara adidaya juga memaksa terbentuknya pola kemitraan dagang baru yang lebih eksklusif. Dinamika ini membuat hukum keunggulan komparatif klasik mulai bergeser demi menjaga stabilitas politik masing-masing negara.
"Saat ini situasi geopolitik seperti ketegangan Iran-Amerika Serikat mengganggu jalur energi di Selat Hormuz, ditambah adanya tren friend-shoring di mana negara-negara hanya berdagang dengan mitra yang memiliki kesamaan pandangan politik," ujar Sahara.