Di sisi lain, jaminan pemerintah terkait ketahanan cadangan energi nasional yang berada di kisaran 16 bahkan hingga 21 hari dipandang sangat rapuh terhadap dinamika global. Tingginya ketergantungan pada pasokan luar negeri membuat cadangan fisik di dalam negeri sangat rentan terkikis apabila jalur perdagangan internasional tersendat konflik bersenjata.
Fahmy menegaskan, pembuktian cadangan tidak bisa hanya bersandar pada klaim administratif di atas kertas.
"Kalau dikatakan Bahlil berulang-ulang cadangan mencukupi, saya tidak yakin karena dengan impor BBM mencapai 1,2 juta barel di tengah krisis perang geopolitik, cadangan 21 hari itu pasti terganggu dan kelangkaan berulang ini membuktikan cadangan kita memang tidak mencukupi," ujar Fahmy.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan, ketahanan stok BBM nasional masih berada pada batas aman di level 16 hingga 18 hari, seraya menginstruksikan Pertamina menggandakan armada kapal pengangkut guna mengurai hambatan pengiriman dari Jawa Timur ke Bali.
Namun, dalih kendala jalur pengiriman laut tersebut dinilai mengaburkan persoalan mendasar di balik disrupsi pasokan BBM jenis Pertalite.
(Dhera Arizona)