Widiyanti menyambut baik penyelenggaraan festival tersebut karena dinilai dapat memperkenalkan tradisi kebugaran Nusantara sekaligus memperkuat daya tarik wisata kebugaran berbasis budaya atau cultural wellness.
“Kami menyambut baik kontribusi festival ini dalam memperkenalkan tradisi kebugaran Nusantara, sekaligus memperkuat daya tarik Yogyakarta sebagai destinasi wisata kebugaran berbasis budaya, atau cultural wellness,” ucapnya.
Dia menjelaskan, wellness tourism saat ini tengah menjadi tren dan mengalami peningkatan perjalanan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Global Wellness Institute, pengeluaran global untuk wellness tourism mencapai USD893,9 miliar pada 2024, meningkat 13,8 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Sementara itu, di kawasan Asia Pasifik, perjalanan wellness tourism tercatat mencapai 562,7 juta perjalanan dengan total pengeluaran sebesar USD215 miliar.
Tren tersebut menjadi peluang bagi Indonesia yang memiliki beragam potensi wisata kebugaran berbasis kearifan lokal dan budaya. Praktik kebugaran tradisional seperti jamu, pemanfaatan rempah, hingga perawatan tradisional dinilai dapat menjadi pembeda Indonesia di pasar internasional.