Rupiah sendiri tercatat ditutup pada level Rp17.978 per USD pada 28 September 2026. KRI memperkirakan nilai tukar rupiah rata-rata berada di kisaran Rp17.950 per USD sepanjang 2027.
Dalam kondisi tersebut, kata Gromy, BI diperkirakan masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan dari 5,75 persen menjadi 6,00 persen pada kuartal IV-2026, terutama apabila The Fed kembali menaikkan suku bunga dan rupiah bertahan di atas Rp18.000 per USD.
Tingginya suku bunga diperkirakan turut menekan aktivitas investasi swasta dan pertumbuhan kredit perbankan. KRI memproyeksikan pertumbuhan kredit melambat dari 12 persen pada 2026 menjadi 9,5 persen pada 2027.
Selain itu, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross diperkirakan meningkat dari 2,10 persen menjadi sekitar 2,4 persen. Hal ini seiring dampak kenaikan suku bunga yang umumnya baru terasa dalam rentang enam hingga 12 bulan.
"Proyeksi kami merupakan gambaran yang mencerminkan kondisi makroekonomi saat ini," kata Gromy.