Sementara itu, inflasi inti pada Agustus mencapai 2,92 persen, tertinggi sejak Maret 2023. Meski masih tergolong moderat, kondisi tersebut menunjukkan adanya tekanan harga yang perlu diwaspadai.
Menurut KRI, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi menjadi salah satu risiko terbesar terhadap inflasi tahun depan. Lonjakan harga energi berpotensi mendorong inflasi mendekati batas atas sasaran BI.
Di sisi lain, kebijakan moneter AS turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya pada 16 September 2026 menjadi 3,75-4,00 persen. KRI memperkirakan masih terdapat potensi kenaikan lanjutan pada kuartal IV-2026.
Kondisi tersebut membuat selisih antara BI-Rate dan suku bunga The Fed menyempit menjadi 175 basis poin, dibandingkan 200 basis poin pada Juni 2026. Penyempitan selisih bunga ini disebut berpotensi mengurangi daya tarik aset berdenominasi rupiah bagi investor asing.