sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Hasilkan 160 Ton LPG per Hari, Kilang Cilamaya Bantu Pasokan Warga Jabar dan Jakarta

Economics editor Nia Deviyana
16/10/2026 08:10 WIB
Operasi kilang pengolahan gas menjadi liquefied petroleum gas (LPG) di Cilamaya, Jawa Barat diresmikan.
Hasilkan 160 Ton LPG per Hari, Kilang Cilamaya Bantu Pasokan Warga Jabar dan Jakarta. Foto: ESDM.
Hasilkan 160 Ton LPG per Hari, Kilang Cilamaya Bantu Pasokan Warga Jabar dan Jakarta. Foto: ESDM.

IDXChannel - Operasi kilang pengolahan gas menjadi liquefied petroleum gas (LPG) di Cilamaya, Jawa Barat diresmikan. Fasilitas milik PT Energi Nusantara Perkasa (ENP) tersebut memiliki kapasitas produksi LPG sekitar 160 ton per hari atau setara 52.800 ton per tahun.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan gas yang mengalir dari perut bumi Karawang tak lagi sekadar lewat. 

“Di Cilamaya, gas itu kini diolah menjadi sekitar 160 ton LPG setiap hari, cukup untuk memenuhi 10-15 persen kebutuhan LPG warga Jawa Barat dan DKI Jakarta. Di tengah impor LPG yang masih mencapai 7-8 juta ton per tahun, kilang berskala kecil ini menjadi salah satu cara pemerintah memperkuat pasokan dari dalam negeri,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (16/10/2026).

Kilang ini mengolah gas dari Pertamina Hulu dengan kapasitas pengolahan terpasang 40 MMSCFD dan menyerap 82 tenaga kerja.

"Kita berangkat dari hal kecil untuk mencapai hal besar. Kecil gak apa-apa, tapi kalau ada beberapa titik yang seperti ini dikumpulkan, besar juga," ujar Bahlil.

Bahlil menjelaskan, sumber bahan baku LPG di Indonesia tidak tersebar merata. Karena itu, kilang skala kecil dan menengah di titik-titik sumber gas menjadi penting, dan pemerintah akan terus menggalakkan pembangunan kilang serupa.

Langkah ini berangkat dari tingginya ketergantungan pada impor. Konsumsi LPG nasional mencapai 8,5 juta ton per tahun, atau 11-12 juta ton jika ditambah kebutuhan industri petrokimia di Cilegon. Sementara itu, kapasitas produksi dalam negeri tidak lebih dari 1,8 juta ton per tahun.

Beban subsidinya pun besar. Saat harga minyak Indonesia (ICP) berada di kisaran 70 dolar AS per barel, subsidi LPG mencapai Rp87 triliun. Dengan ICP di kisaran USD90-100 per barel, angkanya mendekati Rp100 triliun.

Bahlil menilai ketidakpastian geopolitik dalam hampir tiga tahun terakhir mendorong banyak negara memperkuat energi dari dalam negeri, dan Indonesia harus mengoptimalkan seluruh potensinya. Tantangannya, gas bahan baku LNG yang dimiliki Indonesia sebagian besar berupa C1 dan C2, yang tidak cocok diolah menjadi LPG.

Untuk itu, Bahlil meminta Lemigas dan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi menyiapkan compressed natural gas (CNG) sebagai alternatif LPG. CNG memakai gas C1 dan C2 yang melimpah di dalam negeri, dengan harga disebut 30-40 persen lebih murah. Tabung CNG 12 kilogram sudah digunakan, sedangkan tabung 3 kilogram masih diuji.

"Kalau itu mampu kita adakan, maka impor kita yang 8 juta ton per tahun itu kita bisa selesaikan dengan kebutuhan yang ada dalam negeri kita," kata Bahlil.

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement