Pelebaran defisit transaksi berjalan ini terutama didorong oleh melambungnya nilai impor minyak dan gas (migas) akibat kenaikan harga minyak mentah dunia, serta menipisnya surplus neraca perdagangan nonmigas seiring tingginya kebutuhan permintaan barang impor di dalam negeri.
Di tengah bayang-bayang tekanan defisit transaksi berjalan dan sentimen pasar global, nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (28/9/2026) kembali mengalami pelemahan.
Mengacu data kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, Rupiah terkoreksi ke kisaran Rp17.900 - Rp17.920 per USD, melanjutkan tren tertekan akibat tingginya permintaan valuta asing serta penguatan indeks dolar AS di pasar keuangan internasional.
(NIA DEVIYANA)