IDXChannel - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menggandeng delegasi bisnis Rusia yang terdiri dari perwakilan lembaga pengelola dana investasi negara atau sovereign wealth fund (SWF), badan usaha milik negara (BUMN), hingga pelaku usaha swasta ke Jakarta melalui Forum Bisnis Indonesia-Rusia.
Pertemuan tersebut untuk memacu perluasan pasar ekspor nasional menuju target USD500 miliar. "Forum Bisnis Indonesia-Rusia tidak lain bertujuan untuk meningkatkan nilai ekspor kita dari yang saat ini sebesar USD300 miliar agar bertambah lebih besar lagi menjadi USD400 miliar hingga USD500 miliar," ujar Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie dalam Indonesia-Russia Business Forum di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Dia menekankan langkah strategis tersebut diarahkan untuk mendongkrak kinerja perdagangan luar negeri nasional secara signifikan dari capaian saat ini. Akselerasi volume pengapalan barang diproyeksikan mampu mempertebal cadangan devisa serta menjaga kesinambungan surplus neraca dagang yang telah menembus USD7 miliar hingga Agustus.
Anindya menyoroti saat ini total nilai perdagangan timbal balik kedua negara berada di kisaran USD5 miliar, dengan posisi Indonesia masih mengalami defisit sekitar USD1 miliar.
Untuk membalikkan neraca tersebut, Kadin aktif mempromosikan daya ekspor nasional. Semisal lewat publikasi, yakni buku We Buy from Indonesia, yang digadang-gadang untuk membuktikan keunggulan komoditas domestik berdaya serap rantai pasok global.
Portofolio barang yang tercatat bukan hanya barang konsumsi seperti Evian atau Procter & Gamble, melainkan juga pasokan komponen industri bagi korporasi dunia seperti Airbus, Tesla, hingga Samsung.
Anindya mengatakan inisiatif forum bilateral ini sekaligus menjadi tindak lanjut nyata dari kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Vladivostok serta Saint Petersburg yang berfokus memperkuat kemitraan perdagangan dan investasi.
Dalam forum tersebut, delegasi kedua negara mempertemukan perwakilan Danantara dengan entitas investasi sejenis asal Rusia serta pelaku industri perkapalan, perbankan, logistik, dan pertanian.
Dalam kesempatan sama, Chairman of Kadin Indonesia-Belarus Committee, Didit A. Ratam menekankan soal pertemuan bilateral ini secara khusus merangkum delegasi pengelola dana abadi investasi Rusia, perwakilan BUMN, hingga pelaku usaha lintas sektor untuk menjajaki kontrak kerja sama baru. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut diarahkan untuk merealisasikan penjajakan bisnis yang langsung bermuara pada kesepakatan komersial.
"Tugas kita hari ini adalah mempertemukan berbagai kepentingan tersebut dan mengubah setiap peluang menjadi kerja sama bisnis yang nyata. Inilah definisi sesungguhnya dari business matching," kata Didit.
Komite bilateral memastikan pendampingan intensif akan terus diberikan kepada para pelaku usaha kedua negara setelah forum resmi berakhir. Pengawalan berkelanjutan tersebut dinilai penting untuk menjamin arus barang dan jasa antarnegara dapat bertumbuh secara adil tanpa memicu ketimpangan neraca pembayaran.
"Kita berupaya melipatgandakan perdagangan, namun dengan neraca perdagangan yang seimbang. Kita berharap produk-produk Indonesia akan disambut baik di Rusia, sebagaimana kita menyambut produk-produk Rusia di Indonesia," tutur Didit.
Energi dan SDA Motor Penggerak Utama
Anindya menambahkan soal peluang ekspansi komoditas lokal dinilai sangat terbuka lebar pada produk turunan kelapa sawit serta pemanfaatan cadangan bauksit nasional untuk diolah menjadi alumina hingga aluminium untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri Rusia.
Sinergi optimalisasi potensi energi dan sumber daya alam mentah tersebut diyakini menjadi motor utama dalam mengejar pertumbuhan nilai transaksi bilateral.
Peluang integrasi rantai pasok industri berbasis sumber daya alam tersebut diharapkan mampu memuluskan ambisi peningkatan volume transaksi bilateral secara terukur. Kadin optimis target lompatan perdagangan dapat terealisasi seiring tingginya komitmen pelaku usaha dari kedua belah pihak.
"Saya melihat target kita adalah melipatgandakannya dalam kurun lima tahun, sekaligus memastikan neraca perdagangan menjadi lebih seimbang. Tentu tantangannya cukup banyak, namun target ini tetap realistis untuk dicapai," ungkap Anindya.
Kendati potensi pasar terbentang luas, percepatan realisasi transaksi bilateral dinilai masih menghadapi tantangan teknis yang membutuhkan penyelarasan regulasi perbankan antarkedua negara. Kelancaran konektivitas logistik pelayaran internasional dan sistem kliring pembayaran lintas batas menjadi prasyarat penting agar arus pertukaran barang tidak terhambat.
Anindya menekankan soal penyelesaian kendala teknis pada sistem penyelesaian transaksi dan jalur distribusi menjadi prioritas utama yang harus disepakati bersama. Tanpa adanya kepastian jalur transfer dana dan keterhubungan armada logistik yang efisien, aliran komoditas antarkedua negara sulit diakselerasi secara optimal.
"Salah satu hal paling krusial adalah ketersediaan instrumen keuangan untuk mekanisme pembayaran serta kelancaran sektor logistik. Kedua mekanisme ini sangat penting untuk segera diselesaikan," tutur Anindya. (Febrina Ratna Iskana)