sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

CISDI: Layer Baru Cukai Bisa Turunkan Harga Rokok, Berpotensi Tambah Jumlah Perokok

Economics editor Yuwantoro Winduajie
03/10/2026 11:28 WIB
Menurut CISDI, pada skenario tarif SKM III sebesar Rp301 per batang, harga rokok di pasaran dapat turun hingga 11,54 persen.
CISDI: Layer Baru Cukai Bisa Turunkan Harga Rokok, Berpotensi Tambah Jumlah Perokok. (Foto: CISDI)
CISDI: Layer Baru Cukai Bisa Turunkan Harga Rokok, Berpotensi Tambah Jumlah Perokok. (Foto: CISDI)

IDXChannel—Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) menilai rencana Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk menambah lapisan (layer) baru dalam struktur Cukai Hasil Tembakau (CHT) berpotensi menurunkan harga rokok di pasaran dan meningkatkan jumlah perokok di Indonesia.

Peneliti CISDI, Zulfiqar Firdaus, mengatakan simulasi yang dilakukan lembaganya menunjukkan penambahan layer baru, khususnya pada Sigaret Kretek Mesin golongan III (SKM III), dapat menurunkan harga rata-rata rokok legal.

“Dengan penurunan harga tersebut, jumlah perokok dewasa dapat bertambah hingga 1,1 juta orang dan menambah 317.303 kematian dini akibat rokok,” ujar Zulfiqar dalam media briefing bertajuk Cukai Rokok di Ruang Fiskal yang Sempit: Penerimaan Negara Menurun dan Beban Kesehatan Meningkat, dikutip Jumat (2/10/2026).

Menurut dia, pada skenario tarif SKM III sebesar Rp301 per batang, harga rokok di pasaran dapat turun hingga 11,54 persen.

Selain berdampak pada konsumsi, CISDI menilai penambahan layer baru juga berisiko menekan penerimaan negara dari cukai dan pajak rokok.

Dalam simulasi tarif SKM III sebesar Rp615 per batang, sebanyak delapan dari sembilan skenario menunjukkan potensi penurunan penerimaan cukai dan pajak rokok. Penurunan terbesar mencapai Rp12,23 triliun.

Sementara itu, pada simulasi tarif Rp301 per batang, seluruh skenario menunjukkan potensi penurunan penerimaan negara dengan penurunan terbesar mencapai Rp35,01 triliun.

Zulfiqar menilai rencana penambahan layer cukai perlu dikaji kembali karena berpotensi mengurangi efektivitas kebijakan cukai sebagai instrumen pengendalian konsumsi rokok.

“Rencana Kementerian Keuangan menambah layer cukai harus dikaji dan dipertanyakan rasionalisasinya. Simulasi kami menunjukkan bahwa penambahan layer cukai justru berpotensi menurunkan penerimaan negara sekaligus meningkatkan beban biaya kesehatan akibat harga rokok yang semakin murah,” katanya.

CISDI mencatat struktur cukai rokok Indonesia saat ini terdiri atas delapan layer dan menjadi salah satu yang paling kompleks di dunia. Struktur tersebut dinilai mendorong fenomena down-trading, yakni perpindahan konsumen ke produk rokok yang lebih murah.

Berdasarkan temuan riset tersebut, CISDI bersama Komnas Pengendalian Tembakau (Komnas PT), Social Determinants of Health Universitas Indonesia (SDH UI), dan Transdisciplinary Institute mendorong Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, untuk memperkuat kebijakan Cukai Hasil Tembakau (CHT).

Mereka merekomendasikan pembatalan rencana penambahan layer CHT, kenaikan tarif cukai secara signifikan dan berkelanjutan, penyusunan sistem track and trace untuk memperkuat pemberantasan rokok ilegal, serta evaluasi berkala terhadap penerimaan cukai, harga dan keterjangkauan rokok, konsumsi, prevalensi merokok, hingga beban penyakit dan pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

(Nadya Kurnia)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement