IDXChannel – Besarnya fasilitas kredit yang telah disetujui tetapi belum ditarik atau undisbursed loan menunjukkan masih terbukanya ruang bagi perbankan untuk mendorong pertumbuhan kredit.
Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan undisbursed loan perbankan mencapai sekitar Rp2.490 triliun per Juni 2026, setara dengan 21,52 persen dari total plafon kredit yang tersedia.
Besarnya fasilitas yang belum digunakan tersebut mencerminkan masih luasnya kapasitas pembiayaan di sistem perbankan yang dapat dikonversi menjadi penyaluran kredit ketika kebutuhan pendanaan dunia usaha meningkat.
Ruang tersebut sejalan dengan berlanjutnya pertumbuhan intermediasi perbankan nasional.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan kredit perbankan pada Juli 2026 tumbuh 13,58 persen secara tahunan menjadi sekitar Rp9.135 triliun, meningkat dibandingkan pertumbuhan 12,67 persen pada Juni 2026.
Kredit investasi menjadi salah satu penopang dengan pertumbuhan 25,13 persen, sedangkan kredit modal kerja tumbuh 11,04 persen.
Perkembangan ini menunjukkan masih adanya kebutuhan pembiayaan yang dapat ditangkap perbankan, baik melalui peningkatan utilisasi fasilitas kredit nasabah eksisting maupun penyaluran kredit baru.
Namun, ekspansi tersebut perlu dilakukan secara bertahap dengan tetap memperhatikan kebutuhan riil debitur, kondisi usaha, arus kas, serta kemampuan pembayaran.
Dalam konteks tersebut, PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA) atau BWS memiliki ruang untuk menangkap peluang pertumbuhan kredit.
Hingga Juni 2026, penyaluran kredit BWS tercatat sekitar Rp40,34 triliun.
Portofolio tersebut terutama ditopang kredit modal kerja sekitar Rp20,8 triliun dan kredit konsumsi sekitar Rp17 triliun, sementara kredit investasi berada di kisaran Rp1,8 triliun.
Komposisi tersebut membuat BWS memiliki eksposur yang cukup besar terhadap kebutuhan pembiayaan dunia usaha.
Analis Ajaib Sekuritas Alvin Murthi menilai, tingginya undisbursed loan industri Perbankan dapat menjadi salah satu indikator adanya pipeline pertumbuhan kredit yang masih tersedia.
Menurutnya, ketika aktivitas usaha meningkat dan perusahaan mulai membutuhkan tambahan modal kerja maupun belanja investasi, fasilitas kredit yang sebelumnya belum digunakan berpotensi mulai ditarik.
Kendati demikian, besarnya ruang ekspansi tidak serta-merta berarti bank perlu mengejar pertumbuhan kredit secara agresif.
Kualitas pertumbuhan tetap menjadi faktor utama, sehingga penyaluran kredit perlu mempertimbangkan prospek sektor usaha, profil debitur dan kemampuan pembayaran agar peningkatan volume kredit tidak diikuti kenaikan risiko aset.
Dari sisi permodalan, BWS memiliki bantalan yang relatif kuat untuk mendukung ekspansi aset produktif.
Per Juni 2026, rasio kecukupan modal (CAR) BWS tercatat sebesar 32,03 persen, lebih tinggi dibandingkan tingkat industri sekitar 23,70 persen.
Kondisi tersebut memberikan ruang bagi bank untuk mengembangkan aset produktif sekaligus mempertahankan kapasitas dalam menyerap risiko.
Ruang ekspansi tersebut juga didukung penguatan struktur pendanaan. Dana pihak ketiga (DPK) BWS per Juni 2026 tercatat sekitar Rp29,46 triliun, dengan dana murah atau CASA mencapai Rp8,46 triliun.
Nilai CASA tersebut meningkat sekitar 7,49 persen dibandingkan posisi Desember 2025 sebesar Rp7,87 triliun, sementara rasio CASA naik menjadi 28,72 persen dari 23,11 persen.
Penguatan dana murah menjadi penting bagi bank yang ingin meningkatkan penyaluran kredit tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap biaya dana dan margin.
Di tengah upaya tersebut, profitabilitas BWS juga menunjukkan perbaikan.
ROA BWS tercatat sebesar 0,87 persen, meningkat dari 0,38 persen sebelumnya. ROE juga naik menjadi 11,52 persen dari 1,43 persen, sementara NIM relatif stabil di level 3,30 persen dibandingkan 3,29 persen sebelumnya. (Aldo Fernando)