Dengan demikian, rupiah menjadi faktor kunci yang akan menentukan arah kebijakan BI dalam jangka pendek.
Jika rupiah tetap relatif tangguh, BI memiliki ruang untuk mempertahankan BI Rate di 5,75 persen dan menjadikan intervensi valas sebagai instrumen awal untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Sebaliknya, jika rupiah mulai melemah, BI berpotensi meningkatkan intervensi dengan memanfaatkan cadangan devisa.
Tekanan terhadap rupiah menjadi semakin penting apabila pelemahan berlangsung berkepanjangan dan mulai menguras buffer intervensi.
Dalam kondisi tersebut, kenaikan suku bunga BI menjadi lebih mungkin dipertimbangkan apabila pelemahan rupiah mulai mendorong inflasi dari sisi biaya atau cost-push inflation.