Likuiditas perseroan tetap terjaga, tercermin dari rasio liquidity coverage ratio (LCR) sebesar 238,9 persen dan net stable funding ratio (NSFR) sebesar 120 persen per akhir September 2026.
Dari total kredit yang disalurkan, pembiayaan kepada segmen usaha kecil dan menengah (UKM) mencapai Rp6,9 triliun, tumbuh 16,6 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini mencerminkan kontribusi segmen UKM dalam mendukung ekspansi kredit perseroan.
Kualitas aset juga menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross turun menjadi 2,1 persen dari 2,2 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, rasio loan at risk (LAR) menyusut menjadi 5,8 persen dari sebelumnya 7 persen.
Dari sisi permodalan, Permata Bank mempertahankan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) sebesar 32,5 persen dan common equity tier 1 (CET-1) sebesar 24,5 persen. Permodalan tersebut menjadi penopang bagi perseroan dalam menjalankan strategi pertumbuhan jangka panjang.
Di segmen syariah, unit usaha syariah (UUS) Permata Bank mencatat laba operasional sebelum penyisihan sebesar Rp631 miliar, tumbuh 5,4 persen secara tahunan. Pendanaan UUS mencapai Rp27,2 triliun, meningkat 1 persen, sedangkan dana wadiah tumbuh 4,3 persen menjadi Rp3,1 triliun.
(Rahmat Fiansyah)