"IFG menyadari di era digital, generasi muda memiliki peran penting dalam membangun masa depan industri keuangan yang lebih modern, inklusif dan berkelanjutan," ujarnya di Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Dia mengungkapkan, program ini berjalan dengan fokus pada tiga aspek utama, thinking (berpikir analitis dan pengambilan keputusan), working (cara penyelesaian tugas secara terstruktur) dan relating (etika berinteraksi dan kolaborasi).
Selain itu, pada pelaksanaannya, peserta didampingi melalui sistem mentoring untuk pengembangan pola pikir profesional dan karier serta coaching untuk memberikan panduan penyelesaian tugas. "Ini menjadi kesempatan berharga bagi peserta program untuk memperoleh pengalaman kerja langsung di industri keuangan, sekaligus memperluas jaringan profesional di lingkungan BUMN," kata dia.
Sementara itu, Komunitas Penulis Asuransi Indonesia (KUPASI) Wahju Rohmanti berpendapat magang di industri asuransi tetap penting. Menurutnya, asuransi adalah produk yang dijual atau harus dipasarkan bukan pembelinya yang datang.
"Asuransi itu lebih kompleks dan banyak pekerjaan yang tidak bisa diambil alih robot. Sehingga magang adalah cara tercepat transfer skill, dengan catatan perusahaan sebagai user yang benar-benar menerjunkan peserta magang pada pekerjaan riil dan tidak hanya sekedar bantu-bantu administrasi," ujar dia.
Selain itu, di tengah kondisi saat ini, peserta magang juga mendapatkan benefit dan peluang untuk mendapatkan networking, terutama peserta yang sudah siap masuk ke industri asuransi.
(Dhera Arizona)