“Nah, jadi pada saat kita kemarin juga menentukan kenapa BI nggak naikkan suku bunga kita, karena melihat bahwa anchor kita itu inflasi. Saat ini kami masih merasa nyaman dengan inflasi saat ini. Apalagi kita lihat core inflation itu masih di sekitar 2 persenan. Bahwa core headline inflation akhirnya mencapai 3,19 persen,” tutur Destry
Dia mengungkapkan, kajian internal BI menunjukkan kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 0,1 persen.
Dengan mempertimbangkan dampak tersebut, BI memilih mengoptimalkan bauran kebijakan lain yang lebih terarah untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendorong arus modal masuk (capital inflow).
Salah satu langkah yang ditempuh adalah memberikan insentif biaya lindung nilai (hedging) bagi investor. Menurut Destry, pendekatan tersebut lebih terarah karena hanya memengaruhi investor yang akan masuk ke pasar domestik, tanpa memberikan dampak luas seperti kenaikan suku bunga.
“Karena kalau naikin BI itu dampaknya langsung kena semuanya. Tapi kalau kita bermain targeted seperti yang kita lakukan untuk insentif itu, dampaknya kan hanya kepada investor yang akan masuk, di mana dia akan mendapatkan margin cost yang lebih murah,” katanya.
(DESI ANGRIANI)