sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Zona Megathrust Mentawai Masih Menyimpan Energi Gempa Besar, Ini Penjelasan Ahli

News editor Binti Mufarida
03/10/2026 14:35 WIB
IABI menjelaskan bagian bidang pertemuan lempeng di sekitar Mentawai juga masih mengalami coupling atau terkunci.
Zona Megathrust Mentawai Masih Menyimpan Energi Gempa Besar, Ini Penjelasan Ahli. (Foto: IABI)
Zona Megathrust Mentawai Masih Menyimpan Energi Gempa Besar, Ini Penjelasan Ahli. (Foto: IABI)

IDXChannel—Kepulauan Mentawai dan pesisir Sumatera Barat berada di salah satu kawasan tektonik paling aktif di Indonesia. Pergerakan Lempeng India-Australia yang terus menunjam terhadap Lempeng Sunda membuat kawasan tersebut mengalami deformasi dan menyimpan energi tektonik dalam jangka panjang.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan temuan dalam paper Ongky Anggara dkk. (2026) yang menggunakan pengamatan Global Navigation Satellite System (GNSS) 2018-2021 untuk melihat deformasi kerak bumi di Sumatera bagian tengah, termasuk Mentawai dan sekitarnya. 

Penelitian tersebut menggunakan data dari 35 stasiun GNSS, termasuk 11 stasiun di Kepulauan Mentawai dan 14 stasiun di sekitar Zona Sesar Sumatera.

“Dalam bahasa sederhana, kerak bumi di kawasan tersebut tidak sedang ‘diam’; pengukuran geodesi menunjukkan bahwa proses tektonik masih terus bekerja dan tegangan terus berkembang,” kata Daryono yang juga Dosen Magister Manajemen Bencana SPPB Universitas Indonesia (UI) dalam keterangan tertulisnya, dikutip Sabtu (3/10/2026).

Hasil penelitian menunjukkan pola deformasi Sumatera bagian tengah didominasi oleh pemendekan atau kompresi kerak bumi akibat interaksi lempeng di zona subduksi. Bagian utara Pulau Siberut menunjukkan deformasi yang relatif kuat, sementara maximum shear strain yang tinggi ditemukan di utara Siberut dan kawasan Padang.

Daryono menjelaskan, bagian bidang pertemuan lempeng di sekitar Mentawai juga masih mengalami coupling atau terkunci. Kondisi tersebut membuat gerakan lempeng “ditabung” sebagai deformasi elastik hingga akhirnya dapat dilepaskan dalam bentuk gempa.

“Angka tersebut merupakan estimasi potensi berdasarkan model akumulasi slip, coupling, dan asumsi periode ulang yang digunakan dalam penelitian,” ujar Daryono.

Penelitian membagi sumber megathrust Mentawai menjadi Segmen A di utara Siberut dan Segmen B di selatan Siberut. Dengan skenario periode ulang 200 tahun, Segmen A secara teoritis memiliki potensi mencapai sekitar Mw 8,98, sedangkan Segmen B sekitar Mw 8,79.

Namun, angka tersebut bukan prediksi bahwa gempa sebesar itu akan segera terjadi. Penulis penelitian juga mengingatkan adanya ketidakpastian dalam pemodelan dan pembagian sumber menjadi dua segmen dapat menyebabkan estimasi slip deficit menjadi terlalu besar.

“Dengan demikian, Sumatera Barat menghadapi dua persoalan sekaligus: sumber gempa besar di zona subduksi sebelah barat dan sumber gempa dangkal dari sesar aktif di daratan,” kata Daryono.

Selain megathrust Mentawai, Sumatera Barat memiliki Zona Sesar Sumatera, termasuk Segmen Sianok. Paper tersebut memperoleh estimasi laju geser Segmen Sianok sekitar 16,5 ± 4 mm per tahun, dengan kedalaman penguncian sekitar 15 ± 3 km.

Daryono menegaskan bahwa temuan mengenai akumulasi energi tektonik di Mentawai bukan alasan bagi masyarakat untuk takut. Informasi tersebut justru perlu diterjemahkan menjadi kesiapsiagaan karena ilmu pengetahuan belum mampu menentukan tanggal, jam, dan lokasi tepat terjadinya gempa besar.

“Karena itu, pertanyaan yang lebih bermanfaat bukan lagi “kapan gempa Mentawai akan terjadi?”, melainkan “Jika gempa terjadi hari ini, apakah kita sudah siap?’” ujar Daryono.

Menurutnya, potensi magnitudo merupakan informasi tentang besarnya sumber bahaya, bukan kalender kejadian gempa. Kesiapsiagaan perlu dilakukan melalui penguatan bangunan, pemahaman jalur evakuasi, latihan penyelamatan diri, serta penyiapan rencana komunikasi keluarga.

“Pesan terpenting dari penelitian ini bukan bahwa “gempa besar Mentawai akan segera terjadi’”. Pesannya adalah bahwa proses tektonik di bawah Mentawai dan Sumatera Barat masih aktif, sebagian zona masih menyimpan deformasi, dan secara ilmiah terdapat potensi gempa besar pada masa mendatang,” pungkas Daryono.


(Nadya Kurnia)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement