Pekan ini, pemerintah Kamboja menggelar konferensi dengan sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan China, untuk mendiskusikan penanganan industri online scam yang menjamur di Kamboja dan merusak reputasi negara tersebut.
Sebagai catatan, pihak Amerika Serikat mengatakan bahwa jaringan penipu online telah merugikan warga Amerika dengan nilai kerugian mencapai USD10 miliar. Angka itu hanyalah kerugian dalam satu tahun.
Perwakilan Kamboja Chhay Sinarith, mengatakan bahwa tindakan hukum yang melibatkan semua pihak, termasuk ‘mastermind’, co-conspirator, pemilik, penyedia jasa, ataupun pelindung (bekingan), memerlukan waktu dan bukti.
“Oleh sebab itu, sangat penting bagi kita semua untuk berkooperasi,” katanya.
Menurutnya, beragam informasi yang diberikan oleh negara-negara lain mampu membantu Kamboja untuk menjalankan tindakan terhadap sejumlah pihak yang dicurigai. Secara bersamaan, transparansi proses investigasi yang terlalu dini juga berpotensi membuat pelaku kabur.
(Nadya Kurnia)