sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

MBG Bantu Penuhi Kebutuhan Makan Siswa SLB-B YPAC Banda Aceh

News editor Yuwantoro Winduajie
20/10/2026 14:04 WIB
Sebelum program tersebut hadir, sebagian siswa mengandalkan uang jajan dari orang tua, bahkan ada yang berangkat ke sekolah tanpa sarapan.
MBG Bantu Penuhi Kebutuhan Makan Siswa SLB-B YPAC Banda Aceh. (Foto: Istimewa)
MBG Bantu Penuhi Kebutuhan Makan Siswa SLB-B YPAC Banda Aceh. (Foto: Istimewa)

IDXChannel—Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membantu memenuhi kebutuhan makan siswa Sekolah Luar Biasa Bagian B Yayasan Pembinaan Anak Cacat (SLB-B YPAC) Banda Aceh selama mengikuti kegiatan belajar di sekolah. 

Sebelum program tersebut hadir, sebagian siswa mengandalkan uang jajan dari orang tua, bahkan ada yang berangkat ke sekolah tanpa sarapan.

Guru Bahasa Indonesia tingkat SMP dan SMA di SLB-B YPAC Banda Aceh, Nurhasanah, mengatakan sejumlah siswa belum sempat sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Kondisi itu terutama dialami anak-anak yang tinggal jauh dari sekolah, termasuk di wilayah Aceh Besar.

“Kadang-kadang rumahnya yang jauh, di Aceh Besar belum sarapan,” ujar Nurhasanah, Selasa (20/10/2026).

Ia menuturkan, para siswa umumnya sudah tiba di sekolah sejak pukul 07.15 WIB. Dengan waktu keberangkatan yang cukup pagi, sebagian siswa tidak sempat makan sebelum memulai kegiatan belajar.

Sebelum menerima MBG, sebagian siswa membeli makanan di kantin menggunakan uang jajan dari orang tua. Namun, uang tersebut tidak selalu mencukupi kebutuhan makan mereka.

Menurut Nurhasanah, program MBG memberikan kesempatan kepada siswa untuk menikmati makanan yang lebih beragam selama berada di sekolah. Manfaat tersebut juga dirasakan oleh siswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Melalui program ini, siswa dapat menikmati berbagai hidangan, termasuk daging dan buah-buahan, yang tidak selalu tersedia dalam menu makan mereka sehari-hari. Nurhasanah mengatakan, siswa menyambut antusias makanan yang disediakan sekolah. Mereka bahkan kerap menanyakan menu yang akan disajikan sebelum waktu makan tiba.

Siswa tingkat SMP dan SMA biasanya berkumpul di aula sekolah untuk menyantap makanan bersama. Dalam kegiatan tersebut, guru turut mendampingi siswa, termasuk membimbing mereka membaca doa sebelum makan dan menerapkan tata cara makan yang baik sesuai nilai-nilai Islam.

Meski demikian, Nurhasanah mengatakan setiap siswa memiliki selera yang berbeda. 

Sebagian anak, misalnya, masih kurang menyukai sayuran hijau. Ia menilai menu MBG yang diterima sekolah sejauh ini cukup sesuai dengan kebutuhan siswa. Namun, perhatian terhadap kebutuhan masing-masing anak tetap diperlukan dengan melibatkan pihak sekolah dan orang tua.

Nurhasanah, yang telah mengajar sejak 2013, berharap program MBG dapat terus berlanjut dengan kualitas makanan yang tetap terjaga.

“Harapan kami ya untuk ke depan, apabila MBG dilanjutkan kualitas tetap dijaga, itu harapan kami,” katanya.

(Nadya Kurnia)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement