Untuk menyiasati padatnya antrean, tim Healing119.id menerapkan sistem triase guna memilah tingkat kegawatdaruratan pengakses. Pengakses yang tidak mengalami krisis psikologis mendesak akan diarahkan ke fasilitas kesehatan setempat sesuai wilayah domisili mereka.
Di samping kendala kapasitas, Annelia mengungkapkan temuan lain yang cukup mengejutkan terkait profil rentang usia pengakses layanan krisis mental ini. “Yang cukup, entah ini prihatin atau juga bahwa orang sudah mulai mencari pertolongan, yang mengakses Healing119 itu mulai dari umur 8-10. Terutama memang masalahnya kesepian,” papar dia.
Ia menambahkan, porsi pengakses akibat rasa kesepian paling banyak didominasi oleh kelompok usia remaja awal. “Peak-nya kalau kesepian itu, seingat saya sih umur sekitar 12-14 tahun, jadi remaja awal. Kami juga terus terang kaget ketika datanya kemudian sudah terkumpul, oh pengaksesnya semuda ini toh ternyata,” lanjut Annelia.
Kendati demikian, Annelia menekankan agar publik dan awak media tidak terburu-buru menyimpulkan lonjakan angka pengakses sebagai tanda murni meningkatnya angka niat bunuh diri di masyarakat. “Kenaikan volume orang yang mengakses crisis helpline tidak boleh otomatis kita terjemahkan sebagai peningkatan keinginan bunuh diri,” tegas Annelia.
Menurutnya, lonjakan ini justru menjadi sinyal positif terhadap tumbuhnya kesadaran masyarakat akan kesehatan mental serta menurunnya stigma dalam mencari bantuan profesional.