Dia menyebut, Wall Street tidak membutuhkan kondisi yang sempurna untuk bergerak naik, namun ada tiga hal yang diperlukan: harga minyak berhenti melonjak, imbal hasil obligasi berhenti naik, dan laba perusahaan terus tumbuh. "Jika ketiga kondisi tersebut terpenuhi, pasar bullish masih memiliki ruang untuk terus melaju," tuturnya.
Pasar obligasi sedikit mereda, saham teknologi tertekan
Aksi jual obligasi yang terus berlanjut di seluruh dunia kembali menjadi sorotan utama pada hari Kamis. Imbal hasil obligasi Eropa melanjutkan kenaikannya di tengah krisis fiskal Prancis dan meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat harga minyak; sentimen negatif ini awalnya turut berdampak pada pasar AS.
Namun, pergerakan imbal hasil akhirnya melandai menjelang tengah hari, dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun (terakhir tercatat turun 5,7 basis poin menjadi 5,221 persen). Sementara imbal hasil tenor 30 tahun turun 5,9 basis poin menjadi 5,602 persen.
Selain tekanan harga yang meningkat, aksi jual besar-besaran di pasar obligasi dipicu oleh sikap lebih ketat (hawkish) bank sentral di seluruh dunia, lonjakan utang fiskal di negara-negara maju, serta kekhawatiran mengenai besarnya jumlah utang yang diterbitkan perusahaan untuk mendanai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) mereka.
Sejumlah kesepakatan pendanaan kini dilaporkan sedang diproses di seluruh industri AI. The Wall Street Journal melaporkan bahwa Broadcom sedang menggalang dana lebih dari USD50 miliar untuk membiayai pengembangan cip AI khusus bagi OpenAI yang sedang dikerjakan bersama oleh kedua perusahaan tersebut.