IDXChannel - Wall Street dibuka merah pada perdagangan Kamis (29/10/2026), seiring kinerja sejumlah perusahaan teknologi besar yang mengecewakan pasar.
Melansir Investing, indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi merosot 1,5 persen ke level 26.162,35. Indeks S&P 500 turun 0,4 persen ke 7.711,81, sedangkan Dow Jones Industrial Average melemah 0,4 persen ke 52.246,24.
Tekanan terutama datang dari Alphabet, induk Google, setelah kinerja keuangan perusahaan tersebut tidak memenuhi ekspektasi pasar. Saham Alphabet anjlok lebih dari 13 persen pada awal perdagangan.
“Sentimen yang lebih berhati-hati terhadap teknologi menjadi tema utama pasar, karena hasil yang kurang memuaskan dari Alphabet dan Samsung kembali menimbulkan keraguan mengenai imbal hasil belanja AI,” tulis analis Deutsche Bank dalam catatannya.
Laba Alphabet pada kuartal III-2026 meleset dari ekspektasi, terutama akibat pendapatan yang mengecewakan dari unit layanan Google. Pertumbuhan pendapatan iklan Google, yang selama ini menjadi salah satu penopang bisnisnya, juga melambat ke laju terendah dalam lima kuartal.
Kekhawatiran investor turut meningkat karena monetisasi fitur pencarian berbasis AI belum secepat pencarian tradisional. Manajemen Google mengatakan, pengguna mulai memanfaatkan fitur AI Mode, tetapi pendapatan yang dihasilkan dari pencarian tersebut masih tumbuh lebih lambat.
Di sisi lain, arus kas bebas Alphabet semakin tertekan seiring peningkatan belanja modal sebesar USD6,5 miliar dibandingkan kuartal sebelumnya, menjadi USD51,4 miliar. Perusahaan teknologi tersebut terus menggelontorkan investasi besar untuk memperkuat kemampuan AI dan membangun infrastruktur pendukungnya.
Tekanan juga terlihat pada Samsung Electronics. Saham perusahaan teknologi asal Korea Selatan itu turun lebih dari 4 persen setelah laba operasional divisi semikonduktornya tidak mencapai ekspektasi analis.
Penurunan ini sedikit mengikis kenaikan tajam saham Samsung sepanjang 2026. Investor juga kecewa karena perusahaan belum memberikan informasi baru mengenai rencana pengembalian modal kepada pemegang saham, meskipun mencatatkan pendapatan grup pada rekor tertinggi selama empat kuartal berturut-turut.
Samsung membukukan laba operasional keseluruhan sebesar 100 triliun won, setara sekitar USD74,52 miliar.
Berbeda dengan Alphabet dan Samsung, saham Microsoft bergerak naik tipis setelah perusahaan tersebut melaporkan pertumbuhan pendapatan yang lebih baik dari perkiraan.
Pendapatan Microsoft pada kuartal pertama tahun fiskal mencapai USD92,28 miliar, tumbuh 19 persen. Kinerja tersebut didukung oleh pertumbuhan 48 persen pada unit komputasi awan Azure.
Laba per saham yang telah disesuaikan mencapai USD4,89, melampaui ekspektasi Wall Street. Kinerja Azure yang kuat berpotensi meredakan kekhawatiran investor mengenai kemampuan Microsoft menghasilkan imbal hasil dari investasi AI.
Perhatian pasar berikutnya tertuju pada Amazon, perusahaan teknologi lain yang agresif mengembangkan infrastruktur AI. Amazon dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartalan setelah penutupan perdagangan Kamis.
Selain kinerja perusahaan teknologi, pelaku pasar juga mencermati kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) dan data inflasi AS.
Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau personal consumption expenditures (PCE), indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed, sesuai dengan ekspektasi pasar pada September.
Sehari sebelumnya, The Fed mempertahankan suku bunga acuannya sesuai perkiraan. Namun, keputusan tersebut tidak sepenuhnya bulat karena dua dari 12 anggota Federal Open Market Committee (FOMC) menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
(DESI ANGRIANI)