Yang lebih penting, kata dia, adalah pesan The Fed mengenai arah kebijakan berikutnya. Ketika inflasi masih menjadi perhatian dan ruang pelonggaran moneter belum sepenuhnya terbuka, investor akan cenderung lebih selektif dalam menempatkan dana pada aset berisiko.
Dalam kondisi seperti ini, IHSG menjadi lebih rentan terhadap aksi profit taking, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Tekanan tersebut datang ketika struktur teknikal IHSG sendiri belum menunjukkan tanda pembalikan yang kuat. Pelemahan pada Rabu menjadi penurunan selama enam hari perdagangan berturut-turut.
Dari sisi breadth, tekanan juga cukup luas dengan 439 saham melemah dan hanya 201 saham menguat. Sembilan dari sebelas sektor IDX-IC berada di zona merah, dengan sektor infrastruktur turun 1,39 persen, teknologi melemah 1,13 persen dan barang konsumen non-primer terkoreksi 1,12 persen.
Menariknya, kata Hendra, pelemahan IHSG terjadi ketika sejumlah bursa utama Asia justru bergerak positif. Nikkei naik 0,69 persen, Hang Seng menguat 0,19 persen dan Shanghai Composite bertambah 0,71 persen.
"Artinya, tekanan terhadap IHSG tidak semata-mata berasal dari kondisi eksternal, tetapi juga mencerminkan masih rapuhnya sentimen domestik. Ketika saham-saham big caps mengalami tekanan, kenaikan pada sebagian saham lapis kedua belum cukup untuk menopang indeks secara keseluruhan," kata Hendra.
Dia menggarisbawahi soal di tengah kondisi tersebut, perkembangan MSCI juga tetap menjadi perhatian pasar. Pengumuman MSCI pada 16 September terkait konsultasi perubahan metodologi capped indexes bukan merupakan pengumuman perubahan komposisi saham Indonesia.
Konsultasi tersebut masih berlangsung hingga 30 September 2026, sementara hasil dan jadwal implementasinya akan diumumkan paling lambat 30 Oktober 2026. Karena itu, Hendra menekankan soal pengumuman tersebut tidak tepat jika langsung diterjemahkan sebagai adanya saham Indonesia yang otomatis dikeluarkan atau dikurangi bobotnya.
Namun, sensitivitas investor terhadap MSCI saat ini memang sangat tinggi. Setiap perubahan metodologi, mekanisme indeks maupun potensi dampaknya terhadap rebalancing dan arus dana pasif dapat dengan cepat diterjemahkan pasar menjadi sentimen.
"Jadi, yang perlu diwaspadai bukan pengumuman MSCI tersebut sebagai pemicu aksi jual langsung, melainkan bagaimana investor merespons setiap perkembangan MSCI ketika kepercayaan terhadap pasar domestik belum sepenuhnya pulih," kata Hendra.