IDXChannel - Nilai tukar rupiah melemah pada perdagangan awal Kamis (22/10/2026). Melansir Bloomberg, mata uang Garuda turun 17 persen atau 0,09 persen ke Rp18.039 per USD.
Pelemahan dolar AS terhenti sementara pada Kamis seiring investor mulai bersikap hati-hati menjelang serangkaian pertemuan bank sentral pada pekan depan. Bank sentral Jepang, Amerika Serikat (AS), dan Eropa diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan, tetapi dengan nada kebijakan yang cenderung hawkish atau ketat.
Pelaku pasar valuta asing masih cenderung mengambil posisi beli dolar AS dengan asumsi bahwa ledakan industri kecerdasan buatan (AI) akan menjaga perekonomian AS tetap kuat dan pertumbuhan yang solid mendukung suku bunga bertahan lebih tinggi dalam waktu lebih lama.
Penguatan terbaru pound sterling serta mata uang Kanada, Australia, dan Selandia Baru, yang belakangan menyentuh level tertinggi terhadap dolar AS dalam beberapa pekan, mengindikasikan bahwa posisi beli dolar mulai sedikit dikurangi. Meski demikian, pergerakan pada Kamis relatif terbatas.
Pound sterling, yang sempat mencapai level tertinggi dalam satu bulan di USD1,3409 pada awal pekan ini, mendapat dukungan dari inflasi Inggris yang lebih tinggi dari perkiraan dan bertahan di USD1,33955.
Dolar Australia, yang mencapai level tertinggi dalam tiga pekan pada Rabu, bertahan di atas USD0,70 pada USD0,7025. Sementara itu, ekspektasi kenaikan suku bunga di Selandia Baru pada pekan depan mendorong dolar Selandia Baru atau kiwi ke level tertinggi dalam satu bulan di USD0,5709.
Euro dan yen bergerak dalam rentang yang terbatas. Ancaman intervensi serta prospek kenaikan suku bunga menahan pergerakan yen di kisaran 158 per dolar AS.
Sementara itu, Federal Reserve (The Fed) diperkirakan mempertahankan suku bunga pada Oktober di kisaran 3,75–4 persen, tetapi kembali menaikkannya pada Desember.
(NIA DEVIYANA)