Intan mengatakan, peningkatan margin EBITDA mencerminkan semakin efisiennya operasional perseroan sekaligus memperkuat profitabilitas perusahaan.
Selain pertumbuhan pendapatan, perbaikan kinerja Phapros juga ditopang oleh pengendalian biaya produksi. Harga pokok penjualan (HPP) atau cost of goods sold (COGS) selama sembilan bulan pertama 2026 tercatat sebesar Rp384,04 miliar, naik 11,04 persen dibandingkan dengan Rp345,86 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan HPP yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan penjualan membuat rasio HPP terhadap penjualan turun menjadi 48,8 persen dari 50,6 persen. Kondisi ini turut mendorong kenaikan laba kotor sebesar 19,19 persen menjadi Rp402,53 miliar, dibandingkan dengan Rp337,72 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Di tengah beban usaha sebesar Rp321,15 miliar, perseroan mencatatkan pertumbuhan laba usaha sebesar 55,90 persen menjadi Rp80,97 miliar hingga September 2026, dibandingkan dengan Rp51,94 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba sebelum pajak juga melonjak 233,59 persen menjadi Rp48,65 miliar dari sebelumnya Rp14,58 miliar. Arus kas bersih dari aktivitas operasi juga naik 142,85 persen menjadi Rp129,96 miliar, dibandingkan dengan Rp53,51 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.