Selain itu, kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga meningkatkan tensi geopolitik global. Kondisi tersebut kemudian memberikan tekanan terhadap distribusi barang, harga komoditas dan energi, hingga inflasi.
Tekanan tersebut kemudian berlanjut melalui kenaikan harga energi dan komoditas, peningkatan inflasi, hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
"Tidak dalam waktu lama, ada urusan Moody's, Fitch yang kemudian outlook terhadap ekonomi kita dibuat satu notch lebih rendah. Kemudian Mr. Trump dengan segala kebijakannya menghadirkan peningkatan tensi geopolitik," kata Hasan.
Hasan menegaskan tekanan terhadap IHSG tidak membuat OJK mengendurkan agenda reformasi struktural pasar modal. Menurutnya, penurunan indeks telah menjadi konsekuensi yang sejak awal sudah diperhitungkan.
OJK bersama seluruh pemangku kepentingan pasar modal justru akan menjadikan momentum tersebut sebagai dasar untuk membangun fondasi pasar yang lebih kuat.