sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

OJK: Potensi Saham Indonesia Keluar dari Rebalancing Indeks MSCI di November Lebih Terbatas

Market news editor Iqbal Dwi Purnama
08/10/2026 14:51 WIB
OJK menilai pengumuman rebalancing indeks yang dilakukan oleh penyedia provider global MSCI pada November tidak berdampak dalam terhadap pasar.
OJK: Potensi Saham Indonesia Keluar dari Rebalancing Indeks MSCI di November Lebih Terbatas. (Foto: iNews Media Group)
OJK: Potensi Saham Indonesia Keluar dari Rebalancing Indeks MSCI di November Lebih Terbatas. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menilai pengumuman rebalancing indeks yang dilakukan oleh penyedia provider global Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada November tidak berdampak dalam terhadap pasar.

Hasan mengatakan, berdasarkan hasil penilaian atau evaluasi yang dilakukan secara mandiri oleh OJK, mengarah pada kemungkinan kecil MSCI untuk mengeluarkan saham-saham Indonesia dari konstituen indeksnya pada pengumuman November mendatang.

"Kalau secara counter-calculation kita mencoba menghitung dengan self-assessment, rasanya ruang untuk keluarnya saham-saham tersebut dari indeks menjadi jauh lebih terbatas dibandingkan sebelumnya. Jadi mudah-mudahan dampaknya terhadap pasar kita sudah sangat terbatas dibandingkan periode awal dan pertengahan tahun," kata Hasan saat ditemui usai acara Market Insight 2026 di Jakarta, Kamis (8/10/2026).

Hasan mengatakan asumsi tersebut berdasar dengan sejumlah rentetan agenda transformasi integritas pasar modal yang selama ini telah dilakukan dan masih dijalankan. Seperti pengungkapan data kepemilikan saham di atas 1 persen, kepemilikan saham terkonsentrasi, perluasan klasifikasi investor menjadi 27 sub tipe, hingga peningkatan free float menjadi 15 persen.

"Secara kuantitatif kalau ditanyakan, kita sudah berada di jalur yang tepat. Kita sudah menghadirkan tuntutan utama mereka berupa transparansi yang bisa dikomparasikan. Kami bisa menyatakan bahwa pasar modal Indonesia saat ini mungkin menjadi salah satu pasar yang menghadirkan tingkat transparansi paling lengkap dan agresif dalam konteks kategori transparansi yang dituntut," lanjut Hasan.

Meski demikian Hasan mengatakan, apabila kemungkinan MSCI masih membekukan saham-saham Indonesia untuk masuk dalam indeks, tentu bakal membawa pengaruh terhadap pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG).

"Untuk freeze, secara umum memang akan mempengaruhi pasar kita. Pembekuan berarti belum adanya saham-saham baru yang boleh masuk menjadi penghuni baru indeks-indeks index provider global," tambahnya.

Sebagai informasi, pada 12 Agustus lalu, MSCI telah mengumumkan bahwa Indonesia tetap menyandang status emerging market atau tidak jadi diturunkan ke frontier market seperti isu-isu yang berkembang sebelumnya.

Meski demikian, MSCI memberikan tenggat waktu untuk pasar modal Indonesia untuk melakukan sejumlah perbaikan yang akan di review kembali pada November mendatang. Beberapa hal yang menjadi catatan MSCI antara lain, likuiditas dan presentase free float saham, transparansi kepemilikan saham, tata kelola perusahaan, hingga kualitas investability pasar secara keseluruhan. (Febrina Ratna Iskana)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement