sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Lula da Silva Terpilih Kembali Jadi Presiden, Bursa Saham dan Mata Uang Brasil Anjlok

Market news editor Rahmat Fiansyah
27/10/2026 07:20 WIB
Bursa saham Brasil dan mata uang real mengalami tekanan setelah Luiz Inacio Lula da Silva terpilih kembali sebagai presiden.
Bursa saham Brasil dan mata uang real mengalami tekanan setelah Luiz Inacio Lula da Silva terpilih kembali sebagai presiden. (Foto: iNews Media Group)
Bursa saham Brasil dan mata uang real mengalami tekanan setelah Luiz Inacio Lula da Silva terpilih kembali sebagai presiden. (Foto: iNews Media Group)

Koreksi tajam ini membalikkan reli pasar pada awal Oktober 2026, ketika investor memperkirakan pergeseran politik ke kanan setelah Flavio Bolsonaro, putra mantan Presiden Jair Bolsonaro, unggul pada putaran pertama pemilihan presiden. 

Sebelum hasil pemilihan terbaru, indeks Bovespa telah menguat hampir 7 persen dibandingkan level sebelum pemungutan suara putaran pertama, sedangkan real menguat hampir 5 persen terhadap dolar AS. Ketidakpastian bertambah setelah Bolsonaro menolak mengakui hasil pemilihan dan berjanji mengajukan pembatalan hasil tersebut. 

“Yang terpenting bagi pasar keuangan sekarang adalah seberapa cepat Bolsonaro menerima hasilnya atau setidaknya membiarkan konstitusi berjalan sebagaimana mestinya,” ujar Ahli Strategi Pasar ING, Chris Turner.

Ke depan, investor akan mencermati pilihan Lula untuk menduduki jabatan menteri keuangan serta arah kebijakan fiskal pemerintahannya. Lula menghadapi tantangan menahan kenaikan utang negara sekaligus mempertahankan program sosial dan investasi. Jika pemerintah tidak mampu meyakinkan pasar mengenai rencana pengendalian defisit, biaya pinjaman berpotensi meningkat sehingga membebani dunia usaha dan rumah tangga.

Moody's memberikan peringkat Ba1 untuk utang luar negeri pemerintah Brasil, satu tingkat di bawah kategori layak investasi, dengan prospek stabil. Sementara itu, tim Lula menargetkan surplus anggaran sekitar 1,3 persen dari produk domestik bruto pada 2030. Namun, investor masih menunggu rincian langkah pemerintah untuk mencapai target tersebut.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2 Lihat Semua
Advertisement
Advertisement