sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Likuiditas Global Mengetat, IHSG Dibayangi Risiko Arus Modal Keluar

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
16/09/2026 11:08 WIB
Ruang gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dibayangi pengetatan likuiditas global.
Likuiditas Global Mengetat, IHSG Dibayangi Risiko Arus Modal Keluar. (Foto: MNC Media)
Likuiditas Global Mengetat, IHSG Dibayangi Risiko Arus Modal Keluar. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Ruang gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dibayangi pengetatan likuiditas global.

MNC Sekuritas menilai pasar keuangan memasuki tightening regime yang berpotensi mendorong aliran modal keluar dari pasar negara berkembang (EM), termasuk Indonesia.

Dalam flash notes yang diterbitkan MNC Sekuritas pada Rabu (16/9/2026), probabilitas suku bunga global berada di level 375-400 basis poin (bps) pada September 2026 mencapai 92,4 persen.

Puncak pengetatan diproyeksikan berada pada kisaran 450-475 basis poin pada pertengahan 2027.

Tekanan juga tercermin dari kenaikan kurva imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasury/UST).

MNC Sekuritas mencatat yield UST tenor 10 tahun telah menyentuh 5 persen, sedangkan tenor 20 tahun mencapai 5,40 persen.

Menurut MNC Sekuritas, tingginya tingkat diskonto tersebut membuat instrumen berbasis dolar AS menjadi lebih menarik bagi investor institusi sekaligus memberikan tekanan terhadap valuasi aset berisiko, termasuk saham secara global.

Bagi Indonesia, kondisi tersebut berpotensi memicu repricing pada selisih imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) terhadap UST.

Dampaknya dapat berupa keluarnya sebagian modal asing dari pasar domestik, meski MNC Sekuritas memperkirakan tekanannya tidak sebesar yang terjadi pada September 2025.

Sektor padat modal dan eksposur terhadap utang berbunga mengambang juga berpotensi menghadapi tekanan lebih tinggi.

MNC Sekuritas secara khusus menyoroti sektor properti, konstruksi, dan infrastruktur karena kenaikan suku bunga dapat meningkatkan beban pendanaan.

Di dalam negeri, arah kebijakan Bank Indonesia (BI) menjadi salah satu penentu berikutnya. Salah satu skenario yang diperhitungkan adalah kenaikan BI-Rate pada kuartal IV-2026 untuk menjaga selisih imbal hasil dengan aset dolar AS.

Namun, kenaikan suku bunga juga dapat memperketat kondisi likuiditas domestik dan meningkatkan discount rate, yang pada akhirnya dapat menekan valuasi saham.

Selain suku bunga, BI memiliki sejumlah instrumen untuk meredam tekanan terhadap rupiah. MNC Sekuritas memperkirakan operasi triple intervention dapat kembali berperan apabila rupiah mengalami tekanan.

Konsekuensinya, cadangan devisa berpotensi terpakai untuk stabilisasi jika dukungan dari surplus perdagangan masih terbatas.

“Selama selisih yield tidak diselesaikan, modal tetap keluar sehingga IHSG berpotensi mengalami tekanan jual,” tulis MNC Sekuritas.

MNC Sekuritas juga melihat penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SVBI) berpotensi meningkat apabila rupiah terus melemah.

Instrumen tersebut dapat membantu menarik likuiditas kembali ke sistem keuangan domestik sehingga pergerakan IHSG berpotensi memasuki fase konsolidasi.

Di sisi lain, kebijakan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dapat menjadi salah satu penopang rupiah.

Dengan memperkuat pasokan dolar di pasar domestik, kebijakan tersebut berpotensi mengurangi kebutuhan penggunaan cadangan devisa untuk stabilisasi sekaligus membuka ruang bagi pemulihan IHSG.

Di tengah berbagai sentimen tersebut, IHSG mulai mencoba bangkit setelah melemah selama lima hari perdagangan berturut-turut. Pada Kamis (16/9/2026) pukul 10.56 WIB, IHSG tercatat menguat 0,64 persen ke level 6.502.

Pergerakan tersebut menunjukkan adanya upaya rebound, meski pasar masih harus menghadapi kombinasi tekanan yield global, potensi perubahan selisih imbal hasil SBN-UST, serta risiko arus modal asing keluar. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement