Begitu pula dengan aset kripto. Menurut Luqman, potensi kerugian besar juga bisa saja terjadi, tergantung pada jenis aset yang dikelola.
“Jadi untuk mencegah FOMO, yang pertama tadi kita sudah menggunakan teknologi informasi, menggunakan AI. Kunci barrier yang terakhir adalah apakah ini logis secara penalaran kita,” katanya.
Luqman juga menilai FOMO bukan sesuatu yang sepenuhnya bisa dihilangkan. Namun, kondisi tersebut bisa dikontrol dengan memperkuat literasi sebelum mengambil keputusan.
Dia mencontohkan seseorang yang mendengar informasi bahwa suatu produk menawarkan bunga atau keuntungan tertentu. Karena tertarik, orang itu bisa saja langsung membuka produk tanpa terlebih dahulu memahami bagaimana produk tersebut bekerja maupun membaca syarat dan ketentuannya.
Karena itu, ujar Luqman, literasi perlu berjalan lebih dulu sebelum seseorang terjun ke instrumen investasi.
Selain literasi, dia juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi dan kedisiplinan. Ketiganya menjadi hal yang saling berkaitan agar seseorang tidak hanya memiliki informasi, tetapi juga mampu menjalankannya secara konsisten.
“Literasi dulu, kemudian yang kedua pemanfaatan tools dalam bentuk AI, kemudian yang ketiga kedisiplinan,” kata Luqman.
Melalui sesi tersebut, mahasiswa Untar diajak melihat teknologi bukan hanya sebagai bagian dari gaya hidup digital, tetapi juga sebagai alat untuk membantu mereka lebih kritis dalam mengelola keuangan dan menyaring berbagai peluang investasi yang muncul di media sosial.
(Dhera Arizona)