IDXChannel – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai ketidakpastian pasar global dan domestik masih menjadi tantangan bagi investor dalam mengambil keputusan investasi. Di tengah tekanan eksternal, pelemahan rupiah, serta usulan reklasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI, investor perlu mencermati perkembangan pasar secara hati-hati dengan tetap mempertimbangkan fundamental, kualitas aset, profitabilitas, dan valuasi dalam menilai peluang investasi.
Pada Rabu (28/10)/2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tipis 0,31 persen ke level 5.282 setelah berbalik dari pelemahan intraday. Namun, indeks masih berada jauh di bawah penutupan pekan sebelumnya. Investor asing mencatatkan net buy sekitar Rp655 miliar di seluruh pasar. Meski demikian, arus masuk tersebut belum cukup untuk menunjukkan pembalikan tren aksi jual sejak pengumuman konsultasi reklasifikasi MSCI.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai pemulihan IHSG masih rentan terhadap perubahan sentimen investor, terutama di tengah tekanan terhadap rupiah dan ketidakpastian eksternal.
Di pasar global, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75–4,00 persen dengan sikap berhati-hati di tengah inflasi yang masih tinggi. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di sekitar 5 persen, sedangkan harga minyak Brent meningkat hingga USD115 per barel. Tingginya imbal hasil global dan harga energi berpotensi mempersulit stabilisasi rupiah serta membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter domestik.
“Kami tetap berhati-hati dan melihat pemulihan IHSG masih rapuh hingga arus dana asing membaik secara lebih konsisten dan tekanan terhadap rupiah mereda,” ujar Rully.