Sementara untuk emas dunia, Ibrahim memproyeksikan level support berada di kisaran Rp3.948.000 per troy ounce, sedangkan batas resistance berada di posisi Rp4.654.000 per troy ounce.
Ibrahim menjelaskan, penurunan harga emas dunia maupun logam mulia justru membuka peluang strategis bagi bank sentral global untuk menambah porsi kepemilikan emasnya.
Momen penurunan harga ini dimanfaatkan untuk diversifikasi cadangan devisa dengan mengalihkan aset berbasis dolar AS ke emas.
“Karena dengan harga yang relatif lebih murah ini akan diuntungkan dari selisih harga. Nah di sini kita melihat bahwa yang aktif dalam melakukan pembelian ini adalah salah satunya Bank Central China,” ujarnya.
Ibrahim menyebut, Bank Sentral China sebagai salah satu lembaga moneter yang paling agresif memborong emas sepanjang 2026. Pembelian konsisten tercatat sejak awal tahun hingga Juli, sementara akumulasi periode Agustus dan September terus dicermati oleh pelaku pasar.