IDXChannel - Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) bergerak terbatas pada Selasa (6/10/2026), seiring kenaikan harga minyak mentah yang tertahan oleh kekhawatiran terhadap peningkatan stok CPO Malaysia pada September.
Kontrak CPO acuan untuk pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik tipis 0,04 persen menjadi 4.580 ringgit per ton pada jeda perdagangan siang.
“Harga CPO mendapat dukungan dari penguatan harga minyak mentah dan aksi beli lanjutan setelah rebound pada Senin. Namun, ekspektasi tingginya stok CPO Malaysia pada September masih membatasi kenaikan,” kata proprietary trader pada perusahaan perdagangan berbasis di Kuala Lumpur, Iceberg X Sdn Bhd, David Ng, seperti dikutip Reuters.
Stok CPO Malaysia diperkirakan mencapai rekor tertinggi pada September, melampaui puncak sebelumnya pada Desember 2018.
Kondisi tersebut terjadi karena produksi melonjak ke level tertinggi sepanjang masa dan melampaui permintaan ekspor yang masih lesu, menurut survei Reuters.
Harga minyak mentah menguat tipis karena kekhawatiran keamanan di Timur Tengah masih menjaga premi risiko geopolitik di pasar.
Namun, ekspor minyak mentah regional yang tetap kuat serta rencana pelepasan cadangan minyak darurat oleh negara-negara G7 meredakan kekhawatiran terkait pasokan.
Penguatan harga minyak mentah membuat CPO lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Di pasar minyak nabati lainnya, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade naik 0,03 persen. Sementara itu, bursa Dalian Commodity Exchange masih tutup karena libur nasional dan akan kembali dibuka pada 8 Oktober.
Harga CPO cenderung mengikuti pergerakan minyak nabati pesaing karena keduanya bersaing untuk mendapatkan pangsa pasar minyak nabati global.
Di sisi lain, ringgit yang menjadi mata uang perdagangan CPO menguat 0,02 persen terhadap dolar AS. Penguatan ringgit membuat CPO sedikit lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Sementara itu, impor minyak bunga matahari India turun pada September ke level terendah dalam lebih dari empat tahun setelah perang Ukraina mengganggu pengiriman.
Kondisi tersebut mendorong para penyuling meningkatkan pembelian CPO ke level tertinggi dalam tujuh bulan. (Aldo Fernando)